Ahli Ungkap 3 Pesan Menyeramkan di Balik Lakban pada Wajah Arya Daru: Tanda Pembungkam?

Kamis, 17 Juli 2025 – 08:55 WIB

Jakarta, VIVA – Kasus kematian diplomat muda Kementerian Luar Negeri, Arya Daru Pangayunan (39), masih menyisakan banyak pertanyaan. Arya ditemukan meninggal dengan kepala terbungkus lakban di kamar kosnya di Menteng, Jakarta Pusat, Selasa pagi, 8 Juli 2025.

Baca Juga:
Tewas dengan Kepala Dilakban, Arya Daru Korban Fetish Seksual? Ini Kata Seksolog!

Istrinya, Meta Ayu Puspitantri, curiga karena tidak mendapat kabar dari Arya semalaman dan meminta bantuan penjaga kos. Saat kamar diperiksa, jenazah Arya ditemukan dalam keadaan mengenaskan.

Rekaman CCTV menunjukkan Arya masih aktif sampai larut malam. Dia sempat berbicara dengan istrinya sekitar jam 21.00 WIB, menyapa penjaga kos jam 22.15 WIB, dan memesan makanan lewat ojek online sekitar jam 23.30 WIB.

Baca Juga:
Ahli Digital Forensik Soroti 3 Kejanggalan CCTV Kasus Kematian Diplomat Arya Daru: Belum Pernah Diungkap Polisi!

Tiga Pesan Misterius

Tokoh hukum nasional dan pendiri KontraS, Bambang Widjojanto, menganalisis kasus ini dari sudut pandang kriminologi. Di kanal YouTube-nya, Bambang menyebut ada tiga pesan penting:

  1. Simbol Pembungkaman
    Lakban yang menutup wajah Arya bukan hal sepele. Ini bisa diartikan simbol pembungkaman, menandakan upaya menghentikan dia bicara atau bocorkan informasi.

  2. Rekayasa Seolah Bunuh Diri
    Kamar yang terkunci dari dalam membuat kasus terlihat seperti bunuh diri. Tapi, aktivitas Arya hingga larut malam menunjukkan dia tidak dalam tekanan.

  3. Unjuk Kemampuan Pelaku
    Cara kematian Arya mungkin jadi peringatan bagi kolega atau instansinya. Jejak bersih pelaku menunjukkan keterampilan kriminal tertentu.

    Penyelidikan Masih Berjalan
    Kapolda Metro Jaya Irjen Karyoto mengatakan penyelidikan masih intensif. Tim menargetkan kasus ini selesai dalam seminggu.

    Baca Juga:
    Kombes Ade Ary Blak-blakan! Jurus Ini Dipakai Bongkar Penyebab Diplomat Kemlu Tewas Dilakban

    Bukti seperti rekaman CCTV, hasil otopsi, dan perangkat digital korban sedang dianalisis. “Digital forensik sangat penting untuk melacak komunikasi terakhir korban,” kata Karyoto.

    Halaman Selanjutnya

MEMBACA  Memasuki Musim Balik, Pemudik Bisa Menggunakan Jalur Alternatif di Jawa Barat