sedang memuat…
Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Foto/anadolu
**CARACAS** – Krisis multidimensi yang melanda Venezuela selama lebih dari satu dekade menjadikannya contoh ekstrem tentang bagaimana kebijakan negara bisa berdampak langsung pada penderitaan rakyat.
Negara Amerika Latin ini dulu dikenal sebagai salah satu ekonomi terkaya di kawasan, dengan cadangan minyak terbesar di dunia. Namun sekarang, Venezuela lebih identik dengan hiperinflasi, kelangkaan makanan, eksodus massal, dan instabilitas politik yang berkepanjangan.
Sejak Nicolas Maduro memegang kekuasaan di tahun 2013 setelah meninggalnya Hugo Chavez, Venezuela mengalami penurunan tajam di hampir semua indikator kesejahteraan.
Meski pemerintah sering menyalahkan sanksi internasional dan “perang ekonomi” dari luar, banyak analis berpendapat akar masalahnya justru terletak pada kebijakan internal yang keliru, tidak konsisten, dan penuh kepentingan politik.
Berikut tujuh kebijakan utama Presiden Nicolas Maduro yang dianggap banyak menyumbang pada penderitaan rakyat Venezuela.
**1. Hiperinflasi yang Menggerogoti Daya Beli**
Salah satu dampak paling nyata dari kebijakan ekonomi Maduro adalah hiperinflasi yang sangat parah.
Dalam beberapa tahun, Venezuela mengalami inflasi tahunan yang mencapai ratusan ribu bahkan jutaan persen. Nilai mata uang bolivar jatuh sangat dalam, membuat uang tunai hampir tak bernilai.
Harga kebutuhan pokok bisa melonjak dalam hitungan hari, bahkan jam. Gaji bulanan para pekerja seringkali tidak cukup untuk membeli makanan untuk beberapa hari saja.
Banyak warga harus membawa tas penuh uang hanya untuk beli roti atau beras. Tabungan hidup pun ludes, kelas menengah jatuh miskin, dan kemiskinan ekstrem meningkat drastis.
Kebijakan mencetak uang secara besar-besaran untuk nutup defisit anggaran, tanpa didukung produktivitas ekonomi, jadi salah satu penyebab utama hiperinflasi ini.
Upaya redenominasi atau penyederhanaan mata uang yang dilakukan pemerintah beberapa kali terbukti tidak menyelesaikan akar masalah, dan hanya bersifat sementara.
**2. Produksi Minyak Nasional yang Jatuh**
Venezuela punya cadangan minyak terbesar di dunia, bahkan melebihi Arab Saudi. Tapi ironisnya, di bawah pemerintahan Maduro, produksi minyaknya justru jatuh sangat tajam. Dari yang pernah mencapai jutaan barel per hari, produksinya turun sampai hanya sebagian kecil.
Penyebabnya bukan hanya karena sanksi internasional, tapi juga karena salah urus perusahaan minyak negara, PetrĂ³leos de Venezuela S.A. (PDVSA).
Perusahaan ini diisi banyak penunjukan politik, kurang profesional, minim perawatan infrastruktur, dan korupsi yang merajalela.