Jakarta (ANTARA) – Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Octavianus, menyatakan bahwa 63 kasus "super flu" telah terdeteksi di Indonesia. Namun, masyarakat diminta tidak perlu khawatir karena situasi tetap terkendali.
"Virus ‘super flu’ ini dapat dikontrol. Strain ini, atau Influenza A (H3N2) subclade *K, pertama kali diidentifikasi di Amerika. Saat ini, 63 kasus yang terdeteksi di Indonesia telah diperiksa di laboratorium. Untuk pencegahan, kami gunakan vaksin influenza standar," ujarnya.
Pernyataan itu disampaikan usai meninjau program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di SMKN 1 Jakarta, pada Kamis.
Octavianus menekankan, kasus flu justru menurun dalam dua bulan terakhir. Peningkatan biasanya hanya terjadi pada masa peralihan dari musim kemarau ke penghujan.
"Namun, kasus flu turun signifikan dalam dua bulan terakhir dan turun lagi dalam dua pekan terakhir. Flu selalu memuncak di awal musim baru," jelasnya.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebelumnya menegaskan, Influenza A (H3N2) subclade K telah lama beredar seperti flu biasa dan tidak mematikan seperti COVID-19 atau TBC.
"Tidak perlu ada kekhawatiran. Ini adalah influenza H3N2 biasa, bukan virus mematikan seperti COVID-19," kata Menkes.
Layaknya flu biasa, "super flu" dapat berulang. Jika di negara empat musim kasus meningkat tiap musim dingin, peningkatannya di Indonesia tidak signifikan. "Karena itu, di negara-negara tersebut, vaksin influenza diberikan setahun sekali," tambah Octavianus.
Meski strain ini tidak seberbahaya COVID-19, masyarakat diingatkan untuk menjaga kesehatan dan imunitas dengan istirahat cukup dan olahraga teratur.
Berita terkait: Sektor pariwisata didorong terapkan CHSE antisipasi ‘super flu’
Berita terkait: Waspada, Indonesia tingkatkan surveilans hadapi “super flu”
Penerjemah: Lintang Budiyanti Prameswari, Katriana
Editor: Arie Novarina
Hak Cipta © ANTARA 2026