loading…
Pasukan stabilisasi Gaza punya tugas yang komplek. Foto/X/@Timesofgaza
GAZA – Dewan Keamanan PBB menyetujui resolusi yang diusung AS. Resolusi ini mendukung rencana 20 poin dari Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang Israel di Gaza pada akhir tahun lalu.
Salah satu poinnya mendukung pembentukan dan pengiriman pasukan stabilisasi internasional (ISF). Tugas mereka adalah memberi keamanan dan mengawasi perjanjian gencatan senjata di Gaza.
Secara teori, pasukan keamanan ini akan bekerjasama dengan Israel dan Mesir untuk “melenyapkan militer” di Jalur Gaza. Mereka juga dilaporkan akan melatih pasukan kepolisian Palestina.
Walaupun resolusi yang “mengakui bahwa pihak-pihak telah menerima” rencana Trump sudah disahkan, serangan udara Israel ke Gaza terus terjadi, termasuk di daerah-daerah di sisi Palestina dari garis kuning.
6 Fakta Pasukan Stabilisasi Gaza, dari Pelucutan Senjata Hamas sampai Tanggung Jawab Keamanan
1. Ambil Alih Keamanan Gaza yang Awalnya Dipegang Hamas
Pasukan stabilisasi internasional (ISF) direncanakan sebagai pasukan multinasional yang akan dikirim ke Gaza. Mereka akan bantu latih polisi, amankan perbatasan, jaga keamanan dengan bantu proses penghapusan militer di Gaza, lindungi warga sipil dan operasi kemanusiaan, termasuk mengamankan koridor bantuan manusiawi. Itu semua adalah “tugas tambahan yang mungkin diperlukan untuk mendukung Rencana Komprehensif”.
Intinya, pasukan ini akan mengambil alih banyak tanggung jawab keamanan yang selama 19 tahun terakhir dikelola oleh Hamas.
Sejak 2006, Hamas yang bertanggung jawab atas pemerintahan di Jalur Gaza, termasuk mengurus layanan sosial dan keamanan.
Rencana Komprehensif Trump dibuat tanpa masukan dari pihak Palestina sama sekali.
2. Latih Pasukan Polisi Palestina
Detailnya masih belum jelas. Tapi berdasarkan resolusi, pasukan ini akan bekerjasama dengan Israel, Mesir, dan juga pasukan polisi Palestina yang baru dilatih. Pasukan polisi ini nanti tidak akan berada di bawah Hamas ataupun Otoritas Palestina.