Menteri Transmigrasi kirim 36 peserta pelatihan ke China untuk belajar pengentasan kemiskinan dan pembangunan pedesaan, biar bisa diterapin di daerah transmigrasi Indonesia.
Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara bilang program ini bagian dari upaya pemerintah buat percepat pengentasan kemiskinan lewat pembangunan kawasan transmigrasi.
“Kita anggap China cukup sukses dalam pengentasan kemiskinan, dan kita mau belajar praktik terbaik mereka trus diterapkan di Indonesia,” ujarnya Kamis kemaren. Kementrian milih China sebagai lokasi training karena pengalaman dan kesuksesan mereka nurunin angka kemiskinan secara bertahap selama 40 tahun.
Peserta bakal tinggal di China selama sekitar dua minggu buat ikut pelatihan soal pembangunan pedesaan dan pengentasan kemiskinan. Program ini berlangsung 9-22 Mei 2026, mencakup kuliah, diskusi, dan kunjungan lapangan ke Beijing plus Daerah Otonomi Honghe Hani dan Yi di Provinsi Yunnan.
Pesertanya termasuk perwakilan dari Kementrian Transmigrasi, instruktur dari pusat transmigrasi, dan akademisi dari 10 universitas kayak UI, IPB, Unpad, ITB, Undip, UGM, ITS, Unair, UnBraw, sama Unhas.
“Mereka bakal jadi bagian Tim Ekspedisi Patriot yang kerja di 53 daerah transmigrasi, terutama 10 lokasi transmigrasi di Papua,” jelas Suryanagara.
Hasil pelatihannya nanti disusun jadi makalah kebijakan sama buku panduan implementasi buat dipake di daerah transmigrasi. Peserta dari akademisi juga terlibat ngasih training untuk Tim Ekspedisi Patriot yang bakal ditarjunin ke lapangan.
Pemerintah mau bangun model pengentasan kemiskinan yang bisa dipake di tingkat wilayah, kabupaten, desa, sampe keluarga. Ia kasih gambaran kalo satu anggota Patriot bisa bantu sekitar 10 keluarga miskin ekstrim ningkatin kesejahteraan mereka.
“Kalo satu Patriot tanggung jawab 10 keluarga yang masuk kategori miskin ekstrem dan terlantar, maka seribu anggota bisa berkontribusi buat 10.000 keluarga,” ucapnya lagi.