Vermata Pusat Barang Mewah Palsu Dunia, Vietnam Berbenah Berantas Pasar Gelap

Amerika Serikat terus meningkatkan tekanan. Pada akhir Mei lalu, mereka meluncurkan penyelidikan untuk menilai apakah kegagalan Vietnam dalam menindak pelanggaran kekayaan intelektual dianggap “tidak masuk akal” dan menjadi masalah bagi perdagangan AS. Mendapat tekanan itu, pihak berwenang Vietnam pun bergerak.

Pada 10 Juni, polisi di Provinsi Thanh Hoa membongkar sebuah sindikat yang memproduksi dan menjual lebih dari 10.000 item perhiasan palsu. Barang-barang tiruan itu meniru merek-merek seperti Bvlgari, Cartier, Louis Vuitton, dan Tiffany & Co, dengan perkiraan keuntungan ilegal mencapai 1,14 juta dolar AS.

Kios-kios di pasar Ho Chi Minh City dan Hanoi pun ditutup, sementara polisi menggerebek gudang, toko pakaian, juga toko sepatu.

Namun, sikap warga terhadap penindakan ini terbelah. Di satu sisi ada yang terpaksa tutup, di sisi lain ada yang justru berharap mendapat keuntungan dari situasi ini.

Thi Nguyen merancang, membuat, dan menjual pakaiannya sendiri di beberapa toko di Ho Chi Minh City dan Da Lat. Menurut dia, industri barang palsu tidak hanya melanggar hak kekayaan intelektual perancang seperti dirinya, tetapi juga “membuat pasar ritel Vietnam kacau dan terlihat seperti lelucon”.

Ia mencontohkan, pelanggan rela membayar 75 dolar untuk satu gaun desainer palsu yang tampak autentik. Namun, mereka justru mengeluh jika dikenakan biaya setengah dari harga itu untuk pakaian pesanan, padahal dari sisi kualitas kain dan jahitan sama bagusnya.

“Vietnam punya banyak penjahit dan juru sulam tangan yang sangat terampil, tapi banyak dari mereka tidak mendapat penghasilan yang layak,” ujarnya. “Tidak sedikit yang akhirnya bekerja di pabrik barang palsu”
Dengan ditutupnya para penjual barang imitasi ini, ia pun bersiap menambah investasi dan menaikkan harga.

MEMBACA  Free Float Capai 25,7%, Saham TPIA Semakin Memikat Investor Dunia

“Saya jadi lebih percaya diri untuk berbisnis di lingkungan yang lebih bersih, transparan, dan adil,” katanya. “Ini bukan soal siapa menang siapa kalah. Ini soal mengembalikan keadilan dan meluruskan mana yang benar dan salah, mana yang asli dan palsu, pada tempat yang semestinya.”

Tinggalkan komentar