Afrika Barat masih menjadi pusat penangkapan ikan global ilegal. Hasil laporan internasional tahun 2024 menyebut bahwa sekitar 40 persen tangkapan ikan dunia yang tidak memiliki izin dilacak berasal dari perairan tersebut.
Studi itu memperkirakan bahwa kondisi ini telah merugikan negara-negara di Afrika Barat mencapai total 10 miliar dolar AS dari pendapatan yang hilang, di samping mengancam ketahanan pangan jutaan orang. Beberapa pengamat menilai situasi tidak mengalami perbaikan dalam dua tahun terakhir.
Thomas Turay, ketua Serikat Nelayan Sierra Leone, mengatakan rata-rata tangkapan anggotanya turun sekitar 40 persen dalam beberapa tahun belakangan. Ia tidak ragu tentang siapa yang harus disalahkan.
“Penangkapan ikan ilegal sudah keterlaluuan,” ujarnya. “Laut ini milik kita, tetapi kapal-kapal pukat asing datang pada malam hari, melanggar zona eksklusif sejauh tujuh mil, dan langsung merapat ke pantai sini.”
Bakar sedang berbincang di Pelabuhan Tombo dekat Freerown, ketika ia menunjukkan beberapa kapal pukat besar di cakrawala. Menurutnya, kapal-kapal itu berlabuh di luar zona eksklusif, tetapi hampir setiap malam mereka akan masuk.
Ia selanjutnya memperkenalkan kami kepada sekelompok nelayan yang kebanyakan punya kisah untuk diceritakan.
Abu Waisissé, 70 tahun, menceritakan eine seragan di mana banyak perahu nelayan lokal kecil melihat jaring mereka dipotong. Mohamedi Kamera, 55 tahun bilang bahwa kapal pukat internasional besar merusak perahunya dengan cara bertabrakan.