Meski Elon Musk Bilang Filantropi ‘Susah Banget’, Rekor Donasi Warga AS Tembus Rp9.500 Triliun—Tanpa Dipusingkan Harga Kebutuhan Mahal

Pada tahun 2025, ekonomi Amerika Serikat menunjukkan hasil yang campur aduk. Pasar saham berakhir tahun dengan keuntungan yang tinggi, tapi inflasi belum sepenuhnya hilang. Akibatnya, harga kebutuhan sehari-hari seperti makanan dan listrik tetap mahal, dan banyak rumah tangga masih merasa kesulitan. Meskipun begitu, banyak orang Amerika masih bisa menyisihkan uang untuk berdonasi.

Menurut laporan baru dari Giving USA Foundation, total donasi amal di AS mencapai rekor $617,2 miliar pada tahun 2025. Sekitar $394 miliar, atau 64% dari total sumbangan, berasal dari perorangan—naik 1,4% setelah disesuaikan dengan inflasi dibanding tahun sebelumnya. Donasi dari yayasan naik hampir 3% menjadi $117 miliar, sementara donasi melalui warisan meningkat hampir 17% setelah disesuaikan dengan inflasi. Menurut Amir Pasic, dekan dari Lilly Family School of Philanthropy, kenaikan warisan ini kemungkinan karena kinerja pasar keuangan yang kuat dalam beberapa tahun terakhir, yang meningkatkan nilai harta warisan. Namun, secara keseluruhan, donasi amal masih lebih lambat dibandingkan kekayaan miliarder yang melonjak 16% pada tahun 2025.

Kenaikan donasi melalui warisan—kategori yang tumbuh paling cepat dalam laporan ini—menandakan bahwa filantropi mungkin memasuki era baru. Ini adalah awal dari yang disebut Great Wealth Transfer, atau perpindahan kekayaan besar-besaran. Menurut UBS, sekitar $124 triliun diperkirakan akan berpindah tangan ke generasi Milenial dan Gen X pada tahun 2048. Perpindahan ini bisa mengubah cara orang berdonasi di masa depan. Generasi muda yang menerima warisan sekarang mulai mengubah aturan tradisional dalam berderma. Mereka cenderung tertarik pada impact investing, advokasi, dan filantropi gaya ventura, bukan hanya memberikan hibah biasa. Mereka juga lebih percaya pada lembaga nonprofit, misalnya dengan memberikan donasi tanpa syarat dan membiarkan penerima menggunakan uang tersebut sesuai kebutuhan mereka. Prioritas donasi generasi muda pun lebih terfokus pada masalah sistemik seperti perubahan iklim, keadilan rasial, dan kesetaraan gender, sementara generasi sebelumnya lebih fokus pada kesehatan dan pendidikan.

MEMBACA  Kelompok media Trump rencanakan pengumpulan dana $3 miliar untuk belanja kripto.

Perubahan ini terlihat jelas di kalangan orang terkaya dunia. Misalnya, MacKenzie Scott, mantan istri pendiri Amazon, telah menjadi donatur besar. Sepanjang tahun 2025, wanita berusia 56 tahun itu menyumbangkan $19,2 miliar. Sebagian besar donasinya fokus pada keberagaman, seperti donasi $80 juta untuk Howard University dan $40 juta untuk African American Cultural Heritage Action Fund.

Di sisi lain, miliarder seperti Elon Musk justru meragukan efektivitas donasi besar-besaran. Musk mengatakan bahwa mendonasikan uang dengan bijak itu sangat sulit. “Ini jelas sulit,” katanya. “Memberi uang agar terlihat baik itu mudah. Tapi memberi uang untuk benar-benar menghasilkan kebaikan yang nyata itu sangat sulit.” Liz Baker, CEO dari Greater Good Charities, setuju dengan pendapat ini. Dia menjelaskan, memberikan uang besar juga memiliki tanggung jawab besar. “Kamu tidak ingin membuat komunitas jadi bergantung terus padanya. Butuh pertimbangan yang matang soal apa yang benar-benar dibutuhkan,” ujarnya.

Tinggalkan komentar