Indonesia Incar Pertumbuhan Pasar Wisata Muslim Global pada 2030

Jakarta (ANTARA) – Indonesia semakin serius untuk mendapatkan bagian lebih besar dari pasar wisatawan muslim dunia, yang diperkirakan akan mencapai 262 juta perjalanan pada tahun 2030, menurut Kementerian Pariwisata.

Masruroh, Staf Ahli Bidang Transformasi Digital dan Inovasi Pariwisata Kementerian Pariwisata, mengatakan pertumbuhan jumlah wisatawan muslim di seluruh dunia adalah peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat ekosistem pariwisata ramah muslim.

“Jumlah wisatawan muslim terus bertambah secara global. Mereka ingin punya pengalaman liburan yang sama seperti wisatawan lainnya. Tapi satu hal yang pasti harus ada, yaitu fasilitas untuk menjalankan ibadah agama mereka,” kata Masruroh dalam acara Dialog Keuangan Syariah di Jakarta, Rabu (1 Juli).

Ia menjelaskan, pariwisata ramah muslim bukan hanya soal makanan halal. Ini juga mencakup transportasi, akomodasi, kebersihan, dan tempat ibadah yang memungkinkan wisatawan menjalankan ibadah dengan nyaman selama perjalanan.

“Konsep halal yang kita maksud adalah sebuah ekosistem dan gaya hidup. Ini mencakup semua tahap perjalanan wisatawan, dari mereka berangkat, selama perjalanan, sampai pulang dan berbagi pengalaman,” jelasnya.

Menurut Masruroh, Indonesia punya peluang besar untuk menjadi pemimpin dunia dalam pariwisata ramah muslim. Sebab, Indonesia memiliki 11,3 persen dari total penduduk muslim dunia, 17 persen dari populasi muslim Asia, dan 86 persen dari populasi muslim ASEAN.

Ia juga menyebutkan, ada 19 provinsi dengan jumlah penduduk muslim lebih dari 90 persen. Ini jadi landasan budaya yang kuat untuk mengembangkan layanan pariwisata berbasis keagamaan.

Saat ini Indonesia berada di peringkat kedua di Global Muslim Travel Index (GMTI) setelah Malaysia, dengan indikator akses, komunikasi, lingkungan, dan layanan.

Masruroh menambahkan, Kondisi geopolitik juga mengubah pola perjalanan. Dari total 616 juta kunjungan wisatawan mancanegara ke Asia, hampir 128 juta atau lebih dari 20 persen adalah wisatawan muslim, yang membuat kawasan ini jadi pasar yang semakin penting.

MEMBACA  6 dari Yang Terbaik Pull-Up Bars untuk Gim Rumah Anda pada Tahun 2025

Karena penerbangan dari Timur Tengah berkurang akibat ketegangan geopolitik, Kementerian Pariwisata sekarang lebih fokus mempromosikan pariwisata ke pasar regional terdekat. Seperti, Malaysia, Singapura, dan negara-negara Asia Timur.

Ia juga mengakui Indonesia masih punya tantangan dalam memperkuat ekosistem pariwisata ramah muslim di dalam negeri.

Di antara prioritas Kementerian Pariwisata adalah mempercepat sertifikasi halal untuk hotel dan restoran, memperbaiki fasilitas kebersihan umum, serta meningkatkan kesadaran masyarakat tentang prinsip-prinsip pariwisata ramah muslim.

“Kami berharap wisatawan muslim terus datang ke Indonesia dan menikmati keunikan destinasi kita, sambil bisa menjalankan ibadah mereka dengan mudah,” katanya.

Tinggalkan komentar