Daisy Sound Hadirkan Headphone Perdana Premium serta Berkualitas Tinggi, tapi Harganya Sedikit Lebih Murah

Jack Mulroe merasa pasar headphone premium itu membosankan. Katanya, semua merek terlalu fokus pada warna hitam, desain yang mirip-mirip, dan sibuk dengan “perang spesifikasi” sampai lupa bikin headphone yang benar-benar enak dipakai. Dia cuma ingin headphone bergaya California buat bikin orang rileks.

“Aku melihat ada ruang kosong di pasar headphone, sejujurnya. Merek budaya terakhir yang populer adalah Beats. Rasanya hambar,” kata Mulroe.

Mulroe adalah CEO dan pendiri Daisy Sound, merek audio baru yang berbasis di California. Perusahaan ini menyebut dirinya “tim desainer industri dari luar industri audio” yang ingin mengguncang pasar headphone yang sudah padat. Daisy One, headphone pertama mereka, diluncurkan hari Selasa.

Headphone bergaya retro ini bersaing langsung dengan headphone peredam bising premium seperti AirPods Max dari Apple dan WH-1000XM6 dari Sony. Harga headphone itu biasanya antara 450 sampai 550 dolar AS. Daisy One dibanderol lebih murah, yaitu 399 dolar AS. Tujuannya menjual headphone peredam bising yang keren dengan harga sedikit lebih rendah dari para raksasa.

“Aku tahu kita akan bersaing dengan raksasa: Sony, Bose, Beats, Apple. Aku tidak keberatan. Semua bakal baik-baik aja,” kata Mulroe. Tapi persaingan di pasar ini ketat, dari Nothing yang berbasis di London dengan headphone over-ear-nya yang mencolok, sampai Soundcore dari Anker yang murah, hingga merek premium seperti Bowers & Wilkins atau Grado.

Daisy One memang kelihatan bagus. Headphone ini dibuat dari aluminium dengan ikat kepala TR90 komposit, bahan yang banyak dipakai produsen headphone. “Kamu bisa aja lempar ini,” kata Mulroe sambil merenggangkan ikat kepala. Beratnya 318 gram, sedikit lbih berat dari pesaingnya. Bantalan telinga bisa dilepas dan dipasang dengan magnet. Headphone ini pakai Bluetooth, tapi juga bisa pakai kabel USB-C atau jack 3,5 mm. Ada tiga pilihan warna: perak, biru bernama Pasifik, dan hijau kecoklatan bernama Kelp.

MEMBACA  Pelacak Bluetooth Ini Lebih Diandalkan Daripada AirTags (dan Juga Bisa untuk Android)

Desainnya terinspirasi gaya California, karena sebagian besar desainer berasal dari negara bagian itu. Beberapa anggota tim Daisy adalah mantan insinyur dari Harman Professional Solutions, perusahaan audio milik Samsung. Sistem suara di dalamnya dikembangkan oleh perusahaan dari Utah bernama ((nxc)) systems, yang dikontrak Daisy. Di perangkat ini sudah tersimpan suara-suara alam California, seperti ombak laut atau suara hutan Big Sur. Ada juga latihan pernapasan terbimbing untuk membantu orang rileks di tempat stres seperti bandara.

Baterai Daisy One tahan sekitar 35 jam dengan peredam bising aktif, dan 45 jam tanpa peredam bising. Meski dipasarkan sebagai headphone yang tahan lama, baterainya tidak bisa diganti. Mulroe bilang ini sedang mereka usahakan untuk model mendatang. Ulasan awal headphone ini belum sempurna; beberapa penguji di TikTok mengkritik mode transparansi yang kurang bagus. Mulroe tahu keluhan itu dan bilang bisa diperbaiki nanti lewat pembaruan perangkat lunak.

Tinggalkan komentar