Haruskah Anda Bekerja Saat Gelombang Panas? Produktivitas Rontok, Perekonomian Jepang pun Ambruk

Eropa sedang dilanda gelombang panas yang memecahkan rekor sejak akhir Mei. Paris mencapai 38°C, London 33°C, dan Berlin juga sama panasnya. Ribuan orang diperkirakan akan meninggal sebelum gelombang panas ini berakhir. Walaupun berita lebih banyak memperlihatkan orang-orang di air mancur dan sekolah yang tutup, dampak ekonomi sudah mulai terasa dengan cara yang belum dipahami oleh banyak pengusaha dan pembuat kebijakan.

Jika gelombang panas ini terus memburuk, Allianz memperkirakan bahwa Perancis, Italia, Jerman, dan Spanyol bisa kehilangan total $638 miliar dari PDB mereka pada tahun 2030. Kerugian ini terutama disebabkan oleh turunnya produktivitas kerja dan meningkatnya biaya pendinginan.

"Panas mempengaruhi semua orang, dari siswa yang ujian penting sampai pekerja," kata R. Jisung Park, seorang ekonom dari Wharton School. "Kecelakaan kerja. Pokoknya semuanya."

Dampak panas terhadap ekonomi bisa dilihat di mana-mana. Di New York, siswa sekolah yang ujian kelulusan pada hari bersuhu 90 derajat Fahrenheit (sekitar 32°C) kemungkinan gagalnya 10% lebih besar dibandingkan hari yang bersuhu 65°F (sekitar 18°C).

Pekerja di dalam dan luar ruangan 5% hingga 45% lebih mungkin mengalami cedera serius saat suhu di atas 80°F (sekitar 27°C). Di Amerika Serikat, tahun yang lebih panas dari rata-rata menghasilkan nilai belajar yang lebih rendah, dan dampaknya tidak sama untuk semua orang.

Panas mengakibatkan segalanya

Dulu, hubungan antara panas dan ekonomi hanya berdasarkan perasaan. Tapi sekarang, kata Park, kita tahu bahwa daerah yang lebih panas rata-rata lebih miskin.

Penelitian menunjukkan bahwa untuk seluruh dunia, setiap kenaikan 1 derajat Celsius dari rata-rata menurunkan pertumbuhan PDB per orang sekitar 0,7% sampai 1,3%.

Tentu saja efeknya tidak merata. Beberapa daerah yang sangat dingin mungkin mendapat sedikit keuntungan. Tapi bagi sebagian besar dunia, terutama negara yang tidak siap, dampaknya jelas negatif.

MEMBACA  Warga New York Berusia 26 Tahun Kumpulkan 40.000 Pengikut TikTok dalam Misi Jelajahi Semua Museum di Kota

Park mengatakan, panas yang paling berbahaya secara ekonomi bukanlah yang memecahkan rekor, tetapi yang terjadi secara bertahap. "Semua orang perhatikan ketika gelombang panas mencapai 100°F (38°C). Tapi sebenarnya kerusakan terbesar terjadi pada hari-hari yang tidak terlalu ekstrem, yang lebih sering muncul."

Menciptakan perubahan perilaku

Ini lebih soal infrastruktur daripada iklim. Park menjelaskan, hari bersuhu 90°F di Seattle membunuh jauh lebih banyak orang daripada di Houston. Bukan karena panasnya lebih buruk, tapi karena Houston sudah terbiasa dan punya infrastruktur yang sesuai.

AC di rumah membuat perbedaan besar. Sekitar 80-90% rumah di Amerika punya AC. Di Jerman, angkanya hanya 19%, dan hampir dua kali lipat dari dua tahun lalu. Inggris hanya punya 5-7%.

Sebuah laporan Bank Sentral Eropa menemukan bahwa satu hari panas ekstrem bisa mengurangi pertumbuhan PDB Jerman. Sementara efeknya lebih kecil di Spanyol dan Italia yang sudah terbiasa panas.

Badan penelitian lain menemukan bahwa produktivitas puncak pada suhu 22°C dan turun 2% setiap derajat di atas 25°C.

Pelambatan produktivitas kerja

Untuk perusahaan, risiko panas seharusnya menjadi topik diskusi yang penting. Park bertanya, "Berapa banyak perusahaan yang benar-benar tahu persentase pekerjanya yang terkena panas setiap hari?" Jawabannya, masih banyak yang tidak tahu.

Panas mengganggu produktifitas pekerja dan juga rantai logistik. Maskapai penerbangan harus menunda dan membatalkan penerbangan karena pekerja di lapangan seperti petugas bagasi lebih mungkin izin sakit atau terluka.

"Panas mungkin menjadi penyebab kerugian cukup besar yang tidak kita sadari karena rutinitas," kata Park.

Karyawan kantor yang ber-AC masih bisa aman, tapi pekerja di dapur, di gudang, di proyek properti dibuat kewalahan. Jelas ada ketidasamarataan.

MEMBACA  XRP Akan Bernilai Sebesar Ini dalam 5 Tahun, dan Hitungannya Mungkin Mengejutkan Anda

Sekarang, ada pemerintah di Eropa yang menganjurkan untuk membatasi penggunaan AC. Pilot listrik belum siap naiknya permintaan pendinginan. Ini jadi masalah antara cita-cita dan pengkaryiaan.

"Ini bukti soal sulitnya bahaya perubahan iklim sering diberitakan serbagai masalah, bukan demi aplikasi meski ideologikal jeles," kata Park. Park menyarankan untuk memulian dari data dan apa tanfanya pada pekerjaann kita.

"Mulai ulangk siapa nontem benar kata kajidu," katanya selanjutnya. "Adopsip ungs ntagru ga simel adidepercatag," sambummya. pokok menjurus pangper dari meronih dan juga jarangsori pemridityang antara pentng selali.

Tinggalkan komentar