Perubahan untuk PDF: Pengerokan Token Segera Tiba

Era tokenpocalypse udah tiba, dan ini langsung mengincar staf non-teknis. Banyak perusahaan besar mendorong karyawannya untuk pakai AI di hampir semua hal, sebagiannya demi membenarkan dana fantastis yang mereka gelontorkan untuk teknologi tersebut tanpa ada strategi integrasi yang jelas. Tapi, laporan anyar dari 404 Media ngungkapin bahwa beberapa perusahaan yang sama kini mulai memperketat akses, setelah sadar kalau karyawan habisin token untuk tugas-tugas yang sebenarnya gak butuh AI.

Publikasi tersebut kabarnya dapetin rekaman rapat di raksasa konsultan Accenture, di mana para stafnya dikasih tahu bahwa mereka lagi alami “lonjakan pengeluaran token” gara-gara tugas gak berguna kayak ngeconvert PDF ke slide presentasi. Penggunaan macam gini udah mulai bakar token lebih banyak dibanding kerjaan yang dilakukan staf teknis. “Dari data internal, kita lihat justru bukan para insinyur kita yang menyumbang konsumsi token terbesar,” kata seorang karyawan Accenture dalam rekaman yang dikutip dari 404 Media. “Banyak malah dari non-insinyur yang melakukan perilaku kayak gitu.”

Memang kedengerannya agak absurd kalo karyawan yang pandainya cuma ngeles di presentasi bisa pake token lebih banyak ketimbang rekan-rekan di engineering, tapi PDF itu format yang super nggak efisien buat ngasih informasi ke sistem AI. Tergantung alat dan dokumennya, sebuah model mungkin harus ngekstrak dan ngeinterpretasi bukan cuma teks, tapi juga tata letak setiap halaman, gambar, grafik, dan elemen visual lainnya. Format file ini mungkin jadi teman terbaik para bos, tapi itu bisa berubah tagihan token mulai menumpuk.

Ngomong-ngomong, gak susah-susah amat buat nebak gimana Accenture bisa nyasar sampe sini. Menurut sebuah laporan dari Financial Times yang terbit awal tahun ini, perusahaan konsultan Fortune 500 itu sengaja maksa orang-orang biar pake alat AI, bahkan sampe ngelacak login staf dan ngaitkan promosi jabatan sama seberapa sering mereka pake chatbots. Dalan memo internal perusahaan tersebut bilang bahwa naik jabatan butuh “penggunaan adopsi secara teratur” terhadap kecerdasan buatan, ini nunjukin kalo teknologinya bukan sesuatu yang opsional.

MEMBACA  Arema FC Bermain di Stadion Soepriadi Blitar untuk 6 Pertandingan Kandang

Accenture jelas bukan cuma satu-satunya perusahaan yang pakai metrik paling kritis buat dorong penggunaan AI. Raksasa teknologi kayak Meta dan Amazon mulai bikin papan peringkat buat ngelacak karyawan mana yang bakar token terbanyak, dan ngasih intensif agar mereka memaksa diri naik ke daftar itu. Ini pastinya cuma berujung orang-orang melakukan tugas remeh dengan AI, tugas yang sebenernya bisa mereka kerjakan sendiri, cuma demi bakar token.

Pendekatan itu bodoh dan oke-oke aja di era “uang gratis” AI, waktu biaya belum terikat pemakaian toke. Tapi pas laboratorium AI besar mau IPO, mereka beralih ke model penetapan harga berbasis penggunaan waktu. Alhasil muncullah tagihan nilainya sangat tinggi. Situasi ini gak sustainable, dan kini perusahaan mulai minta karyawan buat ngurangin pake AI, bukan nambah lag.

Aneh sih, konsultan yang ngajarin bisnis lain gimana caranya dijalanin lebih efisien dan efeftif, malah gak bisa nebak keruntuhan token yang udah jelas ketebak banget. Pasti bukan pertanda apa-apa, tuh.

Tinggalkan komentar