Tanggal 22 Mei, di sebuah pemakaman militer di pinggiran Kyiv, Presiden Ukraina, Perdana Menteri, Ketua Parlemen, para menteri senior, serta jenderal berdiri dengan khidmat ketika serdadu mengusung usungan jenazah Andriy Melnyk dan istrinya, Sofiya, melintas di hadapan mereka. Upacara ini adalah wujud “penghormatan terhadap pahlawan Ukraina”, ujar Volodymyr Zelenskyy tentang Melnyk, seorang pemimpin Organisasi Nasionalis Ukraina (OUN) yang memperjuangkan kemerdekaan Ukraina dan wafat di Jerman Barat pada 1964. Empat hari setelah pemakaman kembali—abu jenazah keluarga Melnyk sebelumnya digali dari Luksemburg—Zelenskyy menamai sebuah unit militer elite dengan nama “para pahlawan Tentara Pemberontak Ukraina”, sebuah kekuatan paramiliter nasionalis yang lebih dikenal dengan akronim Ukraina-nya, UPA.
Unit ini berasal dari OUN, bertempur dalam Perang Dunia II, dan selama bertahun-tahun melawan Sovietisasi serta Rusifikasi di wilayah Ukraina barat yang dulunya milik Polandia. Langkah Zelenskyy ini memicu bantahan keras dari Presiden Polandia, Karol Nawrocki, yang kemudian berkembang menjadi perselisihan diplomatik yang belum tampak ujungnya. Sejak invasi skala penuh Rusia pada 2022, Polandia telah menjadi tulang punggung logistik Ukraina, pemasok senjata dan bantuan, serta tempat perlindungan bagi jutaan pengungsi.
Pada 19 Juni, Nawrocki mencabut penghargaan tertinggi Polandia, Bintang Elang Putih, dari Zelenskyy karena UPA “tetap menjadi formasi yang bertanggung jawab atas kejahatan keji terhadap” warga Polandia selama Perang Dunia II, tulis Nawrocki di media sosial. Sebagai tanggapan, Kyrylo Budanov, kepala staf kepresidenan Ukraina; Menteri Luar Negeri Andriy Sibiha; dan mantan Presiden Petro Poroshenko mengembalikan penghargaan negara Polandia mereka. Namun, Anton Shekhotsov, pakar kelompok sayap kanan Eropa yang mengepalai Pusat Integritas Demokratik di Wina, menyatakan kepada Al Jazeera bahwa perselesihan ini kemungkinan tidak akan menggeser dukungan Warsawa terhadap Kyiv, karena kedua negara menganggap Rusia sebagai ancaman eksistensial yang jauh lebih besar.
Sebagian besar wilayah yang kini menjadi Polandia pernah menjadi bagian dari Kekaisaran Tsar selama lebih dari satu abad, dan setelah Perang Dunia II, Warsawa menjadi satelit pro-Soviet. “Di Kremlin, mereka paham bahwa konflik semacam ini tidak berdampak signifikan pada citra yang lebih besar, yaitu dukungan Polandia terhadap upaya militer Ukraina.” Namun, media yang didanai Kremlin, yang “terlibat dalam perang informasi melawan Eropa, kemungkinan akan berusaha mengeksploitasi isu UPA guna memperdalam jurang pemisah antara kedua negara,” ujarnya.
Pada 19 Juni, Perdana Menteri Polandia berusaha meredakan ketegangan menjelang Konferensi Pemulihan Ukraina di Gdansk, Polandia utara, yang akan dimulai Kamis ini. “Konflik antara Polandia dan Ukraina hanya menyenangkan Putin dan mengejutkan sekutu-sekutu kami,” tulis Donald Tusk di X. “Garis depan ada di tempat lain.” Zelenskyy tidak akan menghadiri konferensi tersebut; Perdana Menteri Yulia Svyrydenko yang akan memimpin delegasi Kyiv.
Apa sebenarnya UPA?
Munculnya UPA dipicu oleh sejumlah faktor, termasuk aspirasi nasionalis Ukraina, kondisi Perang Dunia II, serta Holodomor—bencana kelaparan buatan Uni Soviet yang menewaskan jutaan warga Ukraina. Pembersihan terhadap rohaniwan, pemuka agama beriman, dan intelektual; serta pemaksaan pe-Rusia-n, ditambah deportasi seluruh kelompok etnis <made: ejaan baku "etnis">