Mark Zuckerberg muncul sebagai miliader berlipat ganda lewat pendirian Facebook, platform yang lebih dari segalanya telah mengantar era media sosial. Kekayaannya terus bertambah sejak saat itu, seiring usahanya—dengan tingkat keberhasikoan yang bervariasi—untuk memanfatkan tren kultural demi tren: metaverse, AI, hingga potongan rambut Gen Z, untuk menyebut.
“Vulture culture” terkini darinya? Sepertinya sebuah aplikasi pasar prediksi.
Berdasarkan laporan dari New York Times pada Selasa lalu, Meta tengah mengembangkan aplikasi pintar yang cara kerja serupa dengan Polymarket maupun Kalshi. Lewat aplikasi itu, pengguna dapat memasang taruhan atas banyak peristiwa mulai dari hasil pertandingan olahraga, fluktuasi pasar saham, hingga kesuksesan misi militer di luar negeri.
Dikenal secara internal sebagai “Arena,” aplikasi pasar prediksi rancangan Zuckerberg ini kabarnya digarap tim kecil dari dalam Meta dan akan beroperasi terpisah dari aplikasi lain milik perusahaan itu, semisal Facebook, Instagram, WhatsApp, dan Messenger. Dengan mengutip naras sumber anonim, Times juga melaporkan bahwa proyek tersebut masih memungkinkan untuk dihentikan sebelum dirilis secara publik. Berbeda dengan Polymarket dan Kalshi, pengguna aplikasi milik Meta tidak akan mempertaruhkan uang sungges umat, melainkan akan diberi imbalan melalui sistem poin bergaya video game. (halaman 3, kalimat 46d.18, dua praty mematai)