Samarinda, Kalimantan Timur (ANTARA) – Kalimantan Timur dikenal luas tidak hanya karena hutan yang luas dan perannya sebagai produsen utama batu bara, minyak, dan gas alam, tetapi juga karena sumber daya laut dan pesisir yang melimpah, yang memainkan peran penting dalam mendukung ekonomi regional.
Di antara berbagai hasil perairan, udang windu telah muncul sebagai komoditas yang menjanjikan, mampu menembus pasar internasional dan menghasilkan devisa. Data ekspor periode Januari–Mei 2026 menunjukkan pentingnya komoditas ini, menegaskan bahwa sumber daya alam yang dikelola dengan baik dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sambil tetap menjaga kelestarian lingkungan.
Menurut Irma Listiawati, Kepala Bidang Perikanan Budidaya dan Penguatan Daya Saing Produk Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan Kalimantan Timur (DKP Kaltim), ekspor udang windu mencapai 769,9 ton dengan nilai ekonomi lebih dari Rp173,3 miliar (Setara US$9,4 juta) pada bulan pertama tahun 2026. Angka ini menempatkan udang windu sebagai komoditas dominan, menyumbang lebih dari setengah total nilai ekspor perikanan provinsi.
Dikenal secara global karena kualitasnya yang unggul, udang windu telah menjadi salah satu komoditas andalan daerah. Dagingnya yang kenyal, rasa manis alami yang khas, serta standar kebersihan yang ketat terus mendorong permintaan tinggi dari pembeli internasional.
Empat komoditas lain juga memperkuat posisi Kalimantan Timur di pasar global, terdiri dari udang pink dengan pengiriman 239,2 ton senilai Rp31,6 miliar (US$1,7 juta), diikuti 89,3 ton ikan kerapu segar senilai Rp7,4 miliar (US$403 ribu), ikan bawal putih segar 59,7 ton senilai Rp6,7 miliar (US$365 ribu), dan 27,7 ton udang putih senilai Rp4,7 miliar (US$256 ribu).
Produk perikanan Kalimantan Timur kini didistribusikan ke 12 negara tujuan utama, dengan Jepang, Amerika Serikat, China, dan Malaysia tetap menjadi pasar ekspor yang paling mapan. Upaya menjaga kesegaran produk dan memenuhi standar kualitas internasional dilakukan oleh pemerintah daerah melalui kerja sama dengan pelaku usaha dalam bentuk jalur distribusi cepat. Salah satu inovasi adalah layanan kargo penerbangan langsung dari Balikpapan ke Wenzhou, China, yang dioperasikan dua kali seminggu oleh pesawat Rimbun.
Listiawati mengatakan pengiriman cepat sangat penting untuk menjaga kualitas produk segar seperti udang, ikan, dan kepiting, memastikan nilai jualnya tetap tinggi saat sampai di konsumen.
Kekayaan Pesisir
Keberhasilan ekspor ini tidak terlepas dari sumber daya alam wilayah pesisir Kalimantan Timur yang luas dan subur. Udang windu yang dikirim ke luar negeri berasal dari pusat produksi yang tersebar di empat kabupaten, masing-masing dengan karakteristik dan keunggulannya sendiri.
Kabupaten Kutai Kartanegara memiliki pasokan terbesar, dengan lokasi produksi utama di Kecamatan Muara Jawa, Samboja, dan Anggana. Di sini, udang diproduksi di tambak terintegrasi dan tradisional yang dikelola secara turun-temurun. Produksi rata-rata mencapai 45–55 ton per bulan, dengan total akumulasi hingga pertengahan Juni 2026 sebanyak 290 ton. Perairan yang tenang dan tanah yang subur menjadikan wilayah ini ideal untuk budidaya udang.
Kabupaten Berau menempati urutan kedua, dengan pusat produksi utama di Tanjung Batu, Suaran, Pegat Batumbuk, dan area lain di sekitar Pulau Derawan. Tidak seperti daerah lain, sebagian besar udang di sini diproduksi melalui sistem budidaya berkelanjutan dan tangkapan alami yang menjaga kualitas. Produksi rata-rata berkisar 28–35 ton per bulan, atau total 190 ton selama hampir enam bulan pertama tahun 2026.
Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) dianggap sebagai wilayah dengan pertumbuhan tercepat. Berlangsung di Kecamatan Waru, Sepaku, dan Babulu, sektor budidaya udang di PPU berkembang sejalan dengan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Selain memenuhi permintaan lokal, produksi mencapai 18–24 ton per bulan, atau 125 ton dari Januari hingga pertengahan Juni, semakin memperkuat pasokan ekspor.
Kabupaten Kutai Timur juga berkontribusi pada produksi dengan rata-rata 8–12 ton per bulan, atau 60 ton hingga pertengahan Juni. Kota Balikpapan kemudian berfungsi sebagai pusat pengolahan dan sortasi di kawasan Kariangau, sebelum komoditas dikirim ke pelabuhan atau bandara untuk diekspor.
Rata-rata ekspor udang windu Kalimantan Timur berkisar 125–150 ton per bulan, dengan total kumulatif mencapai 830 ton pada pertengahan Juni 2026. Angka ini berfluktuasi tergantung siklus musim hujan dan kemarau serta masa panen, tetapi tetap stabil dan meningkat.
Budidaya Ramah Lingk8ungan
Daya saing udang windu Kalimantan Timur di pasar internasional didukung oleh praktik budidaya yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Di tengah kekhawatiran global tentang dampak akuakultur terhadap kerusakan ekosistem pesisir, Kalimantan Timur telah menerapkan model baru yang dikenal sebagai Shrimp Carbon Aquaculture (Secure), hasil pendampingan oleh Dinas Perikanan Kabupaten Berau dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN).
Prinsip sistem ini menghilangkan perluasan lahan untuk meningkatkan hasil panen. Dalam model ini, hanya sekitar 20 persen dari luas lahan yang digunakan untuk budidaya, sementara sisanya 80 persen dikembalikan dan dilindungi sebagai hutan bakau. Pendekatan ini telah banyak diterapkan di wilayah Berau dan mulai diperkenalkan ke daerah lain seperti PPU dan Kutai Kartanegara.
Melalui pendampingan, petani dilatih mengelola sistem tambak yang mendukung produktivitas dan harmoni ekologis. Mereka dilatih membuat kompos dan mikroorganisme lokal (MOL) dari bahan organik di sekitar tambak untuk menjaga kesuburan air dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.
Selain itu, teknik pembenihan juga diperkenalkan untuk memperkuat benur udang dan meningkatkan tingkat kelangsungan hidupnya. Abdul Rahman, seorang petambak udang di Desa Pegat Batumbuk, Berau, mengatakan mereka dulu percaya hasil yang lebih tinggi bergantung pada perluasan tambak yang maksimal.
"Kenyataannya, menyisakan ruang untuk bakau membuat air lebih bersih, udang lebih sehat, dan penyakit lebih jarang terjadi," jelasnya. Bukti menunjukkan bahwa meskipun dengan area budidaya yang lebih kecil, kualitas dan hasil panen telah meningkat. Di tambak Abdul Rahman, produksi udang windu telah tumbuh sekitar 15 persen dibandingkan pendekatan tradisional, dengan produk tambahan seperti ikan bandeng dan kepiting bakau yang juga muncul secara alami di lingkungan bakau.
Mendorong Ekonomi Lokal
Keberhasilan ekspor udang windu tidak hanya diukur dari perolehan devisa, tetapi juga manfaat langsungnya bagi ribuan keluarga di masyarakat pesisir. Sektor ini mempekerjakan tenaga kerja mulai dari petambak, pengangkut, pengolah, hingga staf administrasi dan pemasaran. Setiap pengiriman ke luar negeri mewakili manfaat yang menyebar dari hulu ke hilir.
Kepala Dinas Perikanan Berau, Abdul Majid, menyatakan bahwa budidaya berkelanJutan sangat penting untuk mencegah perlambatan ekonomi masyarakat. "Jika alam rusak, sumber penghidupan ini akan hilang selamanya. Model Secure menunjukkan bahwa hasil laut bisa dipanen tanpa merusak habitat," katanya.
Dengan dukungan pemerintah daerah, organisasi konservasi, dan semangat para petambak, udang windu Kalimantan Timur dikenal tidak hanya sebagai komoditas ekspor, tetapi juga sebagai simbol pembangunan yang merata dan berkelanjutan. Setiap udang yang dikirim ke luar negeri membawa cerita tentang keseimbangan antara memajukan ekonomi dan melestarikan warisan alam.
Di tengah persaingan pasar global, Kalimantan Timur telah membuka jalannya sendiri dengan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui hasil laut sambil menjaga ekosistem pesisir untuk generasi mendatang.