Ketiga insinyur perangkat lunak ini, yang bekerja di divisi berbeda di Amazon dan semuanya tinggal di Seattle, yakin bahwa mereka menjadi sasaran yang tidak adil akibat mengekspresikan keyakinan politis mereka. Pada Kamis lalu, mereka mengajukan pengaduan bersama ke Kantor Hak Sipil Seattle, berdasarkan keterangan para karyawan dan dokumen yang dilihat WIRED. Mereka menuding Amazon secara ilegal berusaha mengintimidasi dan membalas dendam atas ekspresi pendapat pribadi mereka di luar jam kerja mengenai perlunya mengatur dampak sosial dan lingkungan dari pusat data.
“Seattle adalah salah satu dari sedikit yurisdiksi di negeri ini yang melarang pengusaha swasta mendiskriminasi karyawan berdasarkan keyakinan politik yang mereka anut dan organisasi yang mereka ikuti,” kata Abby Lawlor, pengacara dari Barnard Iglitzin & Lavitt yang memberi nasihat kepada para karyawan tersebut. “Di sini, kami memiliki alat hukum unutk melawan dan memastikan para pekerja teknologi dapat berpartisipasi secara demokratis penuh dalam diskusi lokal yang penting ini. Kami berharap Kota Seattle akan menjalankan perannya dalam menegakkan hukum vital Seattle ini.”
Amazon dan kantor hak sipil Seattle belum segera menanggapai permintaan komentar. Margaret Callahan, juru bicara Amazon, sebelumnya mengatakan kepada WIRED bahwa perusahaan menghormati hak karyawan untuk menyuarakan pendapat mereka dan berupaya menjadi pengelola yang bertanggung jawab di komunitas tempat mereka beroprasi.
Para karyawan Amazon itu naik ke mimbar kota untuk mengadvokasi berbagai regulasi yang tengah dipertimbangkan Seattle untuk diterapkan pada pusat data. Amazon tidak memiliki pusat data yang sedang atau akan dibangun di kota tersebut, namun beberapa perusahaan lain telah mengajukan rencana proyek baru.
Para karyawan yang mengaku sedang diselidiki — Darius Irani, Liesel Wigand, dan Schloesser — memberi tahu WIRED bahwa mereka masing-masing dipanggil secara terpisah dalam pertemuan virtual dengan staf hubungan karyawan Amazon pada Rabu lalu. Mereka diberi tahu bahwa penyelidikan mungkin memakan waktu satu hingga dua minggu dan belum ada perkembangan hingga saat ini, selain diarahkan untk menggunakan formulir pencatatan keterangan publik yang mereka rasa tidak berlaku untuk pernyatan pribadi yang dibuat. Schloesser mengingat diberi tahu bahwa penyelidikan ini bisa berujung pemecatan.
Ketiga pekerja itu berpendapat bahwa Amazon memiliki pola untuk berusaha membungkam tindakan kolektif oleh pekerja, termasuk di gudang penyimpanannya, dan menghindari kritik publik terhadap pusat data dengan menggunakan perjanjian kerahasiaan serta taktik lain guna melindungi proyek-proyek tersebut dari pengawasan. Para pekerja yang mejadi korban mengatakan bahwa mereka telah menerima banyak pesan dukungan dari rekan kerja dan tidak ada kritik internal, selain dari pertemuan dengan HR.
Dalam pernyataan selama sesi komentar publik di tiga pertemuan dewan kota bulan ini, para pekerja tersebut mengidentifikasi diri mereka sebagai anggota Amazon Employees for Climate Justice, sebuah kolektif yang terdiri dari ribuan pekerja saat ini dan mantan pekerja di raksasa teknologi tersebut yang telah lama mengadvokasi agar perusahaan lebih serius menanggapi perannya dalam berkontrisbusi terhadap perubahan iklim.
Para karyawan itu tidak mengatakan bahwa mereka berbicara atas nama perusahaan, yang sepengetahuan mereka tidak memberikan komentar resmi apa pun mengenai peraturan pusat data yang tengah dipermasalahkan. Dua pekerja Amazon lainnya yang angkat bicara pada pertemuan dewan kota berikutnya menyatakan bahwa mereka belum meneripa pemberitahuan mengenai penyelidikan.
Schloesser, yang telah bekerja di Amazon selama sekitar enam tahun, dan Irani, yang sudah lebih difa tahun bersama perusahaan, mengatakan bahwa mereka merasa terdorong untuk bergabung dengan gerakan nasional yang sedang berkembang menentang pembangunan pusat data tanpa batas karena alasan pribadi mereka, dan yakin tidak ada orang yang nejcis akal akan menafsirkan pernyataan mereka sebagai representasi Amazon.