Ketika lo sampai di tahap proses beli rumah dimana pihak bank ngasih tau lo berapa banyak yang lo bisa pinjam, rasanya tuh kayak dapat izin untuk belanja besar. Tapi inget, kemampuan untuk memenuhi syarat dan kemampuan untuk membayar itu beda banget. Pelajaran ini udah dipelajarin Khyrunessa Rabbini dari awal.
Di umur 29 tahun, Rabbini masuk ke bank lokalnya di Cincinnati, Ohio, siap buat beli rumah pertama. Dengan gaji $55.000 pada tahun 2008, dia dapat surat prakualifikasi yang nawarin sampai $250.000. "Perasaan saya bilang ini bukan ide yang bagus," katanya. Jadi dia beli rumah seharga setengah dari jumlah itu — keputusan yang bikin kondisi keuangannya kuat sampe akhirnya bisa bangun portofolio properti investasi dengan enam properti selama hampir dua dasawarsa.
Sekarang sebagai pembeli rumah yang berpengalaman, Rabbini masih bersyukur dia memulai kepemilikan rumah dengan langkah yang benar, yang memberinya fondasi kuat untuk dikembangin. Ini yang dia pelajari dari pengalamannya, dan gimana lo bisa pake itu dalam perjalanan lo sendiri.
Mengatur suasana untuk beli rumah
Yang Rabbini terima dari banknya adalah surat prakualifikasi, yang beda sama pra-persetujuan. Keduanya kelihatan sama, tapi sebenarnya penting banget perbedaannya. Prakualifikasi adalah proses yang lebih sederhana yang terutama ngandelin informasi yang lo kasih sendiri. Pra-persetujuan lebih rumit dan nawarin jumlah pinjaman dan suku bunga yang lebih tepat. Pihak bank bakal minta dokumen kayak slip gaji, laporan bank, pernyataan rekening, dan riwayat kredit. Lo biasanya dapet surat pra-persetujuan lebih awal dalam proses, sementara prakualifikasi dipake pas lo siap ngasih tawaran asli.
Di antara pra-persetujuan dan prakualifikasi, "angka yang paling akurat selalu pra-persetujuan," kata Scott Lindner, direktur penjualan nasional untuk pinjaman properti di TD Bank. Dia ngélingin peminjam bahwa dapetin surat prakualifikasi cuma garis start — bukan garis finis — dari proses beli rumah.
Pendapat seorang ahli
Lindner nyatain bahwa banyak angka prakualifikasi dibuat otomatis dan mungkin gak ngukup gambaran keuangan lengkap pembeli. Walaupun sistem otomatis biasanya maenan rasio utang terhadap pendapatan mulai dari 43% sampai 50% tergantung produknya, Lindner ngingetin bahwa jumlah maksimum yang bisa dipinjem seseorang belum tentu yang harus mereka keluarin. "Cuma gara-gara itu lo memenuhi syarat bukan berarti itu yang harus lo pake," ujarnya. "lo sama petugas pinajamn properti lo harus ngobrol tentang apa yang menurut lo nyaman dikeluarin."
Di balik pengalaman beli rumahnya
Naluri Rabbini maminj jam lebih sedikit dari yang ditawarin ternyata bener. Tawaran pinjaman yang keliatan besar dengan cepat keliatan kayak perangkap. "Waktu menjalani proses, ada aja hal-hal yang bikin lo kena biaya kecil banyak yang gak lo sangka bakal muncul," lanjut Rabbinto. "Kalo lo gak ngerti apa yang lagi lo liat, lo cuma nandatangan nama waktu lo untuk ongkos yang lo aja gak tau bisa ada. emang"
Betul, proses beli rumah bisa biki bingu dan berat bahkan buat ahli keuangan yang jago pake spreadsheet sekalipun. Waktunya beli rumah, tindak baikk yang paling ahol arming lo dengan infoample."Ditemenin petugas. untuk lo pandun proses tra si mir"," :akan . reknamiembahkan belansInstr yang nio olSsi-jgn."
(Borrower yang sama satu lagi nggo B1 maybe sikit error salah langsung kotal: Dsitu juga sengaja dipias.)
[… Teks selanjutnya dari syurjo diedeIT lah real YOAET melalu sX j iniA, ja D san tulIMST veri dengan baik ada pereka Wara/.] . In sinni jok Di bagian lanG cuting setelah kepala agak banyYang sekali tampF