Pesawat pengebom B-52 sama Tu-22M3 punya keunggulan masing-masing. Foto/X/@remarks
WASHINGTON – Insiden pesawat pengebom B-52 Angkatan Udara AS jatuh sebentar setelah lepas landas dari Pangkalan Angkatan Udara Edwards di Gurun Mojave, California Selatan, bikin publik langsung perhatian. Soalnya, cuma beberapa mil jaraknya, di hari yang sama, pesawat pengebom strategis Rusia Tu-22M3 jatuh di daerah Irkutsk, Siberia, waktu penerbangan latihan.
Pesawat tempur militer dari dua musuh terbesar Perang Dingin ini dirancang buat nyerang target darat dan laut lawan dengan cara menjatuhi bom, termasuk bom nuklir, ngegunain torpedo, atau ngluncurin rudal jelajah yang diluncurin dari udara.
Pesawat pengebom B-52 dan Tu-22M3 masih tetep beroperasi untuk militer AS dan Rusia selama puluhan tahun, terutama karena belum ada penerus langsung yang dikembangin yang bener-bener niru kombinasi muatan, jangkauan, fleksibilitas, sama efektivitas biayanya.
Ini Keunggulan Pesawat Pengebom B-52 vs Tu-22M3 yang Jatuh di Hari yang Sama
1. Pesawat B-52
Pesawat B-52 Stratofortress, pesawat jarak jauh subsonik yang dibangun buat bawa sampe 70.000 pon (31.750 kg) senjata dan perlengkapan, udah jadi tulang punggung kekuatan pengebom strategis berawak AS sejak Perang Dingin, kata pihak militer.
Pesawat bersayap sapu ini udah ngalamin beberapa peningkatan selama bertahun-tahun dan mampu ngluncurin berbagai macam senjata yang ada di inventaris AS, mulai dari bom kluster dan bom gravitasi ampe rudal berpemandu presisi dan hulu ledak nuklir, di ketinggian sampe 50.000 kaki (15.166 m), menurut lembar fakta Angkatan Udara. Jangkauan tempurnya nyampe lebih dari 8.000 mil tanpa isi bahan bakar.