Setelah menjelajahi Zillow dengan penuh frustasi di pasar properti Portland, Oregon yang makin mahal, Gaby Colón dan Daniel Quebral mengurungkan rencana untuk memiliki rumah konvensional dan memilih hidup di jalanan, dengan membeli rumah beroda seluas 315 kaki persegi.
Sewa saat ini gila-gilaan, dan harga properti lebih parah lagi,” ujar Colón. “Kami cuma mau keluar dari hiruk-pikuk persaingan ini, dan kami menginginkan stabilitas.”
Colón (27) dan Quebral (33) merupakan bagian dari tren yang mencengangkan—masyarakat Amerika yang berpendidikan dan bekerja namun kesulitan membeli rumah, sebuah tujuan yang kian sulit akibat pasar properti yang terlalu mahal. Nishu Sood, pimpinan di firma riset properti John Burns Research and Consulting, mencatat dalam dekade sejak 2015, inflasi naik 37 persen, pendapatan naik 45 persen, dan biaya membeli rumah melonjak hingga 115 persen (sebagai perbandingan, menyewa apartemen naik 43 persen). Harga rata-rata nasional untuk rumah pertama adalah $292.950 pada 2024, naik dari $190.559 pada 2019 menurut realtor.com.
Dengan biaya perumahan yang jauh melampaui kenaikan upah, rumah pertama—biasanya didefinisikan sebagai rumah dengan harga di sepertiga terendah pasar—makin sulit dijangkau. Menurut National Association of Realtors, usia rata-rata pembeli rumah pertama kini mencapai 40 tahun, sebuah tanda meresahkan bahwa salah satu penanda tradisional masa dewasa sedang tertunda.
Para analis mengaitkan masalah ini dengan sebuah kondisi yang sempurna: lonjakan permintaan rumah selama dan sesaat setelah pandemi, masuknya generasi milenial ke pasar properti, dan kenaikan suku bunga KPR.
“Ketika tingkat persediaan turun, titik harga rendah makin tertekan karena itulah harga yang bisa dijangkau lebih banyak orang,” jelas Hannah Jones, ekonom senior di realtor.com. “Begitu suku bunga KPR naik, lebih banyak pembeli tersalurkan ke segmen harga rendah.”
Suku bunga yang lebih tinggi juga memaksa keluarga yang saat ini tinggal di rumah pertama untuk menunda pindah ke properti yang lebih besar, memperparah kelangkaan opsi untuk pembeli pemula.
“Sungguh luar biasa betapa parahnya segmen pasar di bawah $300.000 itu menyusut,” kata Jones, mencatat bahwa pada 2016, hampir 61 persen daftar properti aktif dibanderol $300.000 atau kurang. Sementara itu, dari Januari hingga April 2026, rumah seharga $300.000 hanya mencakup 31 persen pasar.
Kebijakan zonasi yang lebih longgar, menurut Jones, bisa memberikan sedikit kelonggaran, misalnya dengan mendorong pembangunan baru di lahan yang lebih kecil, yang akan meningkatkan kepadatan dan pasokan, serta menawarkan lebih banyak pilihan bagi pembeli. Namun, memperbaiki masalah ini merupakan solusi jangka panjang. Bagi pembeli yang berkomitmen saat ini, pasar memaksa mereka mencari cara kreatif, ada yang memilih rumah mungil, properti di pasar yang lebih murah, atau bergabung dengan teman atau keluarga untuk membeli unit multihunian.
“Pembeli tetap membeli rumah? Jelas, langkahnya jauh lebih lambat dibandingkan selama pandemi atau bahkan sebelum pandemi, tapi mereka menemukan cara untuk mewujudkannya,” ujar Jones. “Secara umum, orang masih menganggap kepemilikan rumah sebagai bagian penting dari impian Amerika.”
Kisah ini adalah bagian dari The Future of Home, kolaborasi antara editor WIRED dan Architectural Digest untuk membantu Anda memahami bagaimana ‘rumah’ akan terlihat di masa depan dan seterusnya.
Pengalaman Menyewa dari Korporasi
Sementara harga jual meningkat secara tidak proporsional, menyewa tetap menjadi opsi yang lebih terjangkau di sebagian besar wilayah negara. Keterjangkauan relatif ini mendorong calon pembeli pada akhirnya menandatangani kontrak sewa, yang merupakan solusi lebih realistis namun sering kali membuat frustasi, dan membuat muda mereka tidak bisa mengakumulasi kekayaan secepat generasi orang tua atau kakek-nenek mereka.
“Rasanya seperti kita harusnya berinvestasi di rumah dan membangun ekuitas, serta membawanya hingga pensiun, tapi itu bahkan bukan pilihan bagi kita,” kata Mike Odom (45).