Nairobi, Kenya – Kematian seorang pelajar pria berusia tujuh belas tahun dalam gelombang protes terhadap rencana fasiiltas karantina Ebola milik Amerika Serikat telah mentransformasi sebuah proyek kesehatan publik menjadi salah satu kontroversi politick paling sengit di Kenya tahun ini.
Kini, tiga orang telah tewas, tantangan hukum di pengadilan telah menghentikan pengerjaan konstruksi, serta rencana pusat karantina lima puluh tempat tidur di pangkalan udara Laikipia, Nanyuki, memicu perdebatan tajam mengenai partisipasi publik, kedaulatan, dan pengaruh asing.
Namun di Laikipia, amarah masyarakat menjangkau lebih dalam dari sekadar peristiwa beberapa pekan terakhir.
Fasilitas yang dirancang untuk mengarantina warga negara Amerika yang berpotensi terpapar Ebola selama wabah di Afrika Timur dan Tengah ini telah membuka kembali luka-luka lama di sebuah daerah yang warisan kolonial Inggris-nya masih melekat kuat pada lanskap kehidupan.
Bagi sebagian besar penduduk, kontroversi ini bukan semata-mata soal penyakit atau puplic health.Problem utamanya adalah: tanah, kekuasaan, dan catatan sejarah yang tak pernah benar-benar sirna.
Laikipia menempati posisi unik dalam sejarah kolonial kenya. Hamparanluas daerah ini dulunya adalah bagian dari White Highlands – pemukiman elite Eropa di atas lahan-lahan paling subur.Tak kurang dari enam dasawarsa setelah proklamasi kemrdekaan, keturunan para Pendiri” tersebut masih menguasai konsesi perkebunan dan resor proper;
Pernyataan itu kembali memicu kemarahan para penentang proyek, yang banyak di antaranya berargumen bahwa persyaratan konstitusional terkait partisipasi publik tidak bisa begitu saja dikesampingkan.
Kelvin Kubai, seorang advokat Mahkamah Tinggi Kenya, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Pasal 10 dan 118 Konstitusi menetapkan partisipasi publik sebagai nilai nasional yang semestinya memandu keputusan-keputusan besar pemerintah.
Menurut Kubai, kekhawatiran tentang fasilitas tersebut tidak bisa dilepaskan dari sejarah Laikipia.
“Singkatnya, sekali terkena musibah, seribu kali waspada. Perjanjian saat ini serupa dengan perjanjian Maasai tahun 1904 dan 1911, yang tanpa menghiraukan partisipasi publik, menyerahkan padang rumput sabana Laikipia yang kaya raya kepada kepentingan asing—sebuah kesalahan yang tidak ingin diulangi oleh masyarakat Laikipia,” jelasnya.
## Mengapa Kenya dan mengapa kini?
Pertanyaan juga muncul tentang alasan Kenya terpilih menjadi tuan rumah fasilitas yang, menurut para kritikus, akan melayani warga negara Amerika Serikat dan tidak akan tersedia untuk penggunaan rutin oleh warga Kenya jika terjadi wabah domestik.
Sejumlah aktivis dan tokoh lokal mempertanyakan apakah masalah kesehatan publik semata dapat menjelaskan urgensi proyek tersebut.
Laporan terbaru mengindikasikan bahwa strategi tanggap darurat Ebola Washington bergulir di tengah kompetisi geopolitik yang lebih luas, khususnya di Afrika, di mana AS dan Tiongkok sama-sama berusaha memperluas pengaruh.
Beberapa analis berpendapat bahwa fasilitas tersebut juga dapat membantu memperkuat kehadiran AS di Afrika Timur di saat kompetisi strategis meningkat pesat.
Para pejabat AS menolak anggapan bahwa proyek ini memiliki tujuan lain di luar kesiapsiagaan kesehatan publik.
Warga yang tinggal di dekat pangkalan udara Laikipia tetap skeptis.
Marlin Ndegwa, seorang pemimpin komunitas di Nanyuki, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa warga masih mencari jawaban tentang mengapa proyek tetap dijalankan meskipun mendapat penentangan publik.
Menurut Ndegwa, banyak warga melihat sengketa ini melalui prisma keluhan lama tentang kepemilikan tanah dan keterlibatan asing di wilayah tersebut.
Pertanyaan ini menjadi semakin mendesak seiring meningkatnya ketegangan.
Tiga orang kini tewas dalam demonstrasi terpisah menentang fasilitas itu.
Korban terbaru adalah seorang pelajar berusia 17 tahun yang keluar rumah untuk mengambil seragam sekolah dari rumah bibinya pada hari protes meletus.
Kematiannya telah menjadi simbol bagaimana sebuah proyek yang dirancang untuk bersiap menghadapi darurat kesehatan di masa depan justru mengekspos pertanyaan-pertanyaan mendalam dan belum terjawab tentang masa lalu kolonial Kenya.
Lebih dari seabad setelah otoritas kolonial mengubah bentang alam Laikipia, perdebatan tentang tanah, kedaulatan, dan pengaruh asing terus membentuk masa depan wilayah tersebut.
Menurut Kyule, pertanyaan-pertanyaan itu tetap menjadi inti kontroversi ini.
“Entah bagaimana,” ujarnya. “Apa karena kita tidak bisa mengatakan ‘tidak’? Atau karena kedaulatan kita sudah dikompromikan?”