Berikut adalah teks yang sudah ditulis ulang ke bahasa Indonesia B2 dengan maksimal 2 kesalahan atau typo:
WARTAKOTALIVE.COM – Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) Budiman Sudjatmiko buka suara setelah dituduh sebagai pengkhianat reformasi oleh para mahasiswa.
Tuduhan ini muncul dari mahasiswa dalam berbagai diskusi terbuka di beberapa universitas. Salah satunya yang menjadi perhatian khusus terjadi di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Senin (15/6/2026).
Diskusi antara pemerintah dan mahasiswa di UGM pada hari itu berujung ricuh. Pasalnya, mahasiswa memaksa masuk ke atas panggung tempat para pembicara, termasuk Budiman Sudjatmiko yang mewakili pihak pemerintah, sedang menyampaikan pendapat.
Di panggung tersebut, mahasiswa secara terbuka menyebut Budiman sebagai pengkhianat refomasi.
Namun, sebelum sempat menanggapi tuduhan itu, situasi sudah tidak terkendali. Beberapa pembicara akhirnya harus diamankan oleh aparat Kepolisian.
Setelah insiden itu, Budiman pun angkat bicara soal tuduhan tersebut.
Mantan aktivis 1998 ini menolak disebut sebagai pengkhianat reformasi. Menurut Budiman, sejak dirinya menjadi anggota DPR RI di era pasca-reformasi hingga kini menjabat sebagai kepala badan, semua ia lalui melalui mekanisme pemerintahan deomokratis.
Budiman juga mempertanyakan maksud dari tuduhan tersebut. Ia mengatakan bahwa pemerintahan Prabowo Subianto saat ini adalah pemerintahan yang demokratis karena memenangkan Pemilu 2024 secara demokratis.
“Kalaupun saya bergabung dengan hasil kudeta, barulah wajar disebut pengkhianat demokrasi. Tapi ini bukan,” ujar mantan aktivis Partai Rakyat Demokratis (PRD) itu.
“iya saya bukan bergabung dengan para diktatroial. Saya tidak bagian dari kudeta tapi bagian dari hasil pilihan rakayat.”
Menurut Budiman, kemenangan Prabowo Subianto di Pemilu adalah hasil dari reformasi itu sendiri.
Baca juga: Alasan Mahasiswa UGM Nekat Kepung Para Pejabat di Tengah Diskusi
”Jadi dimana pengkhianatannya tuh? Ungkap Budiman dalam program Kompas Tv, Selasa (16/6/2026).
Mantan Politisi PDIP itu juga merasa dirinya tidak berubah, baik ketika masih jadi aktivis maupun sekarang sebagai pejabat. kataanya cuma beda baju robek ama baju rapih doang.