Jakarta (ANTARA) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sedang meneliti penggunaan pembakaran terkendali di beberapa ekosistem tertentu sebagai strategi mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan, disaat luas area terdampak api meningkat hampir delapan kali lipat secara nasional.
Asep Hidayat, Kepala Pusat Riset Ekologi BRIN, mengatakan bahwa sebagian besar kebakaran hutan dan lahan disebabkan oleh aktivitas manusia, sementeara kondisi iklim yang kering memperparah skala dan keparahannya.
“Pengelolaan api butuh pencegahan, deteksi dini, restorasi ekosistem, dan partisipasi masyarakat, termasuk kemungkinan melalui pembakaran terkendali di ekosistem tertentu,” ujarnya dalam pernyataan pada Senin.
Menurut Asep, pembakaran terkendali bisa memberikan beberapa manfaat jika dilakukan dengan benar, seperti mempercepat regenerasi hutan, mengurangi penumpukan material mudah terbakar seperti dedaunan kering, ranting, dan rumput, mengendalikan spesies invasif, menjaga keseimbangan ekosestem, dan meningkatkan kesuburan tanah.
Ia mengutip pakar manajemen kebakaran McRee Anderson dari organisasi lingkungan internasional The Nature Conservancy, yang menyebut praktik ini sudah digunakan selama puluhan tahun di negara-negara seperti Amerika Serikat, Australia, dan Kanada, untuk mengurangi beban bahan bakar alami dan mengelola risiko kebakaran liar.
Asep mengatakan mitigasi kebakaran hutan dan lahan perlu mendapat perhatian serius karena data Kementerian Kehutanan yang disampaikan saat diskusi menunjukkan bahwa luas kumulatif area terdampak kebakaran dari Januari hingga Mei mencapai 81.077 hektar.
Angka itu meningkat drastis dari 10.444 hektar yang tercatat pada periode yang sama di tahun 2025.
“Apakah api bisa dikendalikan? Jawabannya bisa, meskipun butuh penelitian mendalam tentang dampak negatif yang mungkin muncul,” ujar Asep.
Sementara itu, Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan pemantauan satelit mendeteksi 2.312 titik panas di seluruh Indonesia dari awal tahun hingga 8 Juni.
Konsentrasi titik panas tertinggi terdeteksi di Provinsi Riau sebanyak 607 titik, disusul Kalimantan Barat sebesar 478, dan Aceh dengan 220 titik.
BMKG memprediksi aktivitas titik panas akan terus meningkat dalam beberapa bulan ke depan, seiring kondisi kering akibat fenomena El Niño yang semakin menguat di wilayah Indonesia.
Oleh karena itu, BMKG menekankjan pentingnya koordinasi antar-lembaga yang lebih kuat, mulai dari sistem peringatan dini berbasis sains hingga langkah mitigasi konkret di tingkat masyarakat.
Berita terkait: BNPB gelar modifikasi cuaca seminggu di Jambi cegah kebakaran hutan
Berita terkait: Kementerian identifikasi tujuh titik rawan kebakaran gambut
Penerjemah: M. Riezko Bima, Resinta Sulistiyandari
Editor: Anton Santoso
Hak cipta © ANTARA 2026