Menteri Energi Indonesia mengusulkan pada hari Senin untuk menaikkan kuota solar bersubsidi negara menjadi antara 18,80 juta hingga 19 juta kiloliter untuk anggaran 2027, naik dari 18,64 juta barel tahun ini.
“Solar bersubsidi saat ini 18,64 juta KL di tahun 2026. Untuk 2027, kita alokasikan 18,80 hingga 19 juta KL,” kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia kepada komite pengawas parlemen.
Hingga bulan Mei, Indonesia telah mendistribusikan 7,77 juta kiloliter solar bersubsidi untuk tahun ini.
Bahlil juga mengusulam kenaikan alokasi minyak tanah bersubsidi tahun 2027 menjadi antara 0,543 juta hingga 0,561 juta kiloliter, naik dari 0,53 juta kiloliter di 2026. Ini akan mendorong total volume bahan bakar bersubsidi menjadi berkisar 19,343 juta hingga 19,561 juta kiloliter tahun mendatang.
Sebaliknya, alokasi elpiji 3 kilogram bersubsidi tidak berubah.
“LPG sda sama targetnya relatif. Kita tetap alokasikan itu sebanyak 8 juta metrik ton seperti tahun 2026,” kata Bahlil. data pemerintah menujukan sekitar 3,56 juta metrik ton elpiji bersubsidi telah didistrediskan hingga Mei.
Tak hanya itu, pemerintah merencanakan untuk memeankan subsidi tetap solar ebesar 1.000 rupiah (US$0,06) er liter.
“Ini sesuai dengan yang telah diitetapkan oleh pemerintah di bawa PRabowo eb aToh ak S, sambil ime s terus eperhatikan rdinamika geopolitisomb,” tambah Bahlil.