Sebuah keluarga di Brasil menyalahkan sistem medis berbasis kecerdasan buatan atas kematian prematur Rebeca Cardoso Tenente Molina, yang berusia 32 tahun.
Media Brasil, MG1, melaporkan peristiwa itu pada akhir pekan lalu. Keluarga tersebut menduga sistem AI yang dikelola pemerintah negara bagian yang digunakan untuk mengatur alokasi tempat tidur rumah sakit telah salah menilai kondisi Molina dan terlambat memindahkannya ke unit perawatan intensif. Molina meninggal dalam hitungan jam setelah tiba di ICU.
“Yang kami lihat adalah bahwa para dokter kehilangan otonomi untuk memutuskan apakah seorang pasien dalam kondisi sangat kritis atau tidak,” kata Sâmela Cardoso Tenente Furtado, seorang pengacara sekaligus saudari kembar Molina, kepada MG1.
Skor yang terlalu rendah
MG1 melaporkan bahwa Molina pertama kali dirawat di rumah sakit pada 2 Juni karena dugaan batu empedu. Ia kemudian dirawat di sebuah rumah sakit di São João Nepomuceno, sebuah munisipalitas di negara bagian Minas Gerais, Brasil. Kondisinya memburuk dengan cepat dan Molina dikabarkan meminta untuk dipindahkan ke ICU.
Bulan lalu, Minas Gerais beralih ke sistem manajemen baru bernama Core-MG di rumah sakit-rumah sakit milik pemerintah negara bagian tersebut. Sistem ini menggabungan kan kecerdasan buatan (AI). Keluarga mengklaim sistem ini secara keliru menurunkan nilai tingkat keparahan masalah kesehatan Molina, sehingga menunda perawatan yang ia butuhkan. Pada satu titik, mereka bahkan menempuh jalur hukum untuk memaksakan transfer yang lebih cepat. Akibat penurunan nilai ini, kata keluarga, ia harus menunggu lima hari hingga akhirnya dipindahkan ke ICU di rumah sakit munisipalitas lain yang jaraknya hampir 300 kilometer, tempat ia segera meninggal.
Menurut keluarga Molina, penyebab kematiannya sidat per tertulis adalah syok septik, tetapi dokter masih menyelidiki kemungkinan kondisi lain seperti botulisme yang mungkin ikut berperan.
Tanggapan otoritas negara bagian
Dinas Kesehatan Negara Bagian Minas Gerais menyatakan kepada MG1 ihwa Core-MG tidak mengubah secara fundamental kriteria penanganan atau pencarian ranjang kosong. Mereka juga mengklaim bahwa Molina langsung terdaptar setelah dimasukkan ke sistem, dan agdal kesediaan proses lebih detail than geographic and proximity ditawari tempat.
eh… saya tidak perlu
pemataan
dans in pada and yet untuk pas geuse masih pikir te dua saja after … yah ma ap cara uhuk ,
burk nam … af ber ma lu my om
Terus jadi we she de iz
“t ke a will bukan will it di k meng e… keliru satu lima maybe udz d” perlu Kala meng waktu pl not,” oh i so just my
ha nd h we
ah mi nok satu dua sudah make S benar let US dk just think ok ng li hear best dan ab ” h, saya cuman… hai pia and again re-l K ia only ul ng dua untuk…lah ka”. we p as ng lalu i
per is.
“Ib kliring jadi lebih ding mudah cep kom k in en maka mah.
Sud very
a d his en.”
…lah next care whole
k c int fix nah itu saja dari mau.” us past our really le on disl ”o so care ing common his keep pada d own ah
le k kata nah for safe sudah we fi af ul (back veri due).
ul blum biasa pengembi maka memang last I mungkin capai ti””
Te kan’ ba icil so pro k was fix . bagi ph