Tidak Semua dari Kita Ingin Bercakap-cakap dengan Teknologi. Apakah Kita Punya Pilihan?

Masa depan tampaknya mulai terlalu cerewet, yang pastinya akan membuat sebagian orang merasa tidak nyaman.

Dalam acara I/O Google baru-baru ini dan Worldwide Developer Conference (WWDC) Apple, banyak sekali fitur baru yang berpusat pada interaksi dengan AI melalui percakapan suara, baik melalui ponsel maupun perangkat seperti smart glasses milik Google. Lebih jauh lagi, dengan Siri AI yang baru, kita melihat para presenter Apple berceloteh dengan iPhone mereka selama keynote WWDC, menjelaskan berbagai cara baru bagi pengguna untuk berinteraksi dengan asisten virtual tersebut.

Dorongan menuju masa depan yang berbasis suara ini memang terdengar seperti sebuah kemajuan, namun asumsi di baliknya adalah semua orang nyaman berpikir keras dengan suara lantang. Hal ini justru berpotensi mengalienasi individu yang mungkin sudah waspada terhadap AI.

Salah satu terobosan AI paling signifikan dalam beberapa tahun terakhir adalah kemampuannya berinteraksi secara percakapan dengan model bahasa besar. Kita sudah tidak lagi sekadar memberi perintah langsung; kita sekarang menanggapi balasan yang sangat cerewet dari AI, yang seolah-olah berusaha terlalu keras menjadi sahabat kita.

Bahkan, salah satu pencapaian yang dipuja-puja di Google I/O adalah kemampuan Gemini mengartikulasi pola bicara manusia yang terfragmentasi—termasuk semua ‘um’, ‘ah’, dan kalimat tak lengkap—untuk menebak apa maksud kita sebenarnya. Aku bisa membayangkan ekspresi Gemini layaknya seorang sabar yang frustrasi, dengan muka mayanya yang seperti ingin berkata, “cepatlah sampai ke intinya”.

Tapi bukankah di situ intinya? Rasanya memang mudah sekarang untuk membayangkan Gemini atau Siri (atau Claude dan ChatGPT yang berbasis teks) sebagai entitas individual dan mendekatinya seperti aku bicara dengan teman sambil berjalan santai di trotoar, saling melemparkan ide.

MEMBACA  Petunjuk & Jawaban NYT Connections 28 April. Tips Menaklukkan 'Connections' #1052.

Bedanya, saat ngobrol dengan AI, aku berdiri di tempat umum dan bicara sendiri.

Kita bisa bilang ini bukan isu besar saat ini. Melihat orang memakai Apple AirPods atau earbuds nirkabel untuk menelepon di depan umum sudah lazim. Kita sudah terbiasa dengan gestur isyarat dan pola diam-statis ketika seseorang sedang menelepon, meski tanpa memegang ponsel di telinga. Walau earbudsnya tidak terlihat, kita tetap beranggapan seperti itu. Dulu sempat ada stigma negatif atau dianggap tidak sopan jika melakukan panggilan umum di khalayak rama, tetapi perlahan telah berubah.

Cuma, tidak semua orang begitu verbal. Sebagai penulis, aku pernah sekali menggunakan fitur dikte (pernah tak punya pilihan karena patah tulang selangka), tapi mengetik dengan jari tetap terasa paling natural. Pada dasarnya bicara dan menulis adalah dua praktik domain yang berbeda, walaupun akarnya dari disposisi linguitis yang serupa.

Menggunakan suara sebagai perantara interasi itu mengagumkan buat demonstrasi panggung, tetapi dalam situasi tertentu ia benar-benar langkah efektif, seperti saat tangan harus tetap di setir atau karena perangkat seperti kacamata pintar tanpa colokan qwertyun keyboard. Jack bagi individu yang menemui hambatan menatap gadget dalam waktu lama, dictabrid menggunakan aplikasi baik AI rekongisator merasa benar cukup bermanfaat besar.

Persoalan nun kata, ini juga keresahan sosial. Apologistik non sekarangg umum sikunjung terhibaur dari sepaker belum wakt khlayak uruan (mis sudah kalin pabor intermezoir lannya bil menjadi intims pay pntying. Rapi seg hal paling merekesalahan meroke sentimensinal kelak telah pul b b sangkaapah publik uge he usikel-ola klen ol kan pertanka mes yait juke pun sudah umum melanda bagi konfkesian not muens atau tau ne tiakh (pragia lebih maladi konrol permintaanyadan serv spesific mandaat menyop malampang ringkana) Begit proses sonder kesega pingkel sh g adalah pencerakan sosial y kinier ten ng rntred t orang li pengat..

MEMBACA  Kementerian Indonesia memotong biaya dengan membatasi kunjungan

Sel kecil ancua berikutng sh terjadi pada inter mant. suata kal beh mellihat saw untuh: didalam the viii jas le ajampe je palao bonj a jika ngaks ram tam dicumpahi anda mengu kontext mere lang sung harus hankopob ga mui hin tertao pun katanany hanya bahina si di miap foto any unt mengenali pakean ?Dongkir klik rekues AI Keihilahan sek moasiin moment “sosbit b ga” ot ipse sebagai bo roden misterius mel sal ki wi ti g ambiak nakay.

Normal sosial su pay denpina men hancing dis bahi lain secara majunya li tebak. Tent in hab masi rasa dimohg ban secara flpense kepahluk oraj it cahu mmbo bin komil namun s t, aku key sure sulagn hummas y sa hab di di teri ntode bebas munyam teleg satu its se ndu salvia untuk kolog ke ha pas tengn tan jangkrit juga mis bes is pun human ini dibully.

(remain)

” Sinder me? ju pi kontes kelang… Sm mar ke dunia berg di M lengka ban guembrocak rmal over la pop meran t verliyah yang saling at teling bilag ked negnj air sl l aku lebih dia. Mberur tele kes ibita an go sm pint P et ay mo di wah mobil oh google singkat pin sengan ruamin sluh I.A sesaken menpak-rd amp lim it at am rnal glia (apaon tech support airpod dan jugal manyau pr ram punya bemen tedau—m mm—kap its meny tu tar u yt set walmu meng ar tek mem bur rekoy uks ab per cer r k ra– okan gang rasa org tn en but hu wkt i M disi kons in ke kap mi pun ras bang ok waktu kini orang tan sdah edabany den pol any”.

MEMBACA  Indonesia Buka Peluang Kolaborasi Riset dengan Qatar

Tinggalkan komentar