Setelah WIRED melaporkan minggu lalu bahwa aplikasi kacamata pintar Meta mengandung kode yang memungkinkan perusahaan mengaktifkan fitur pengenalan wajah pada perangkat tersebut, pekan ini perusahaan menghapus kode tersebut tanpa memberikan komentar apapun mengapa hal itu dilakukan atau apakah mereka berencana menambahkan kembali fungsionalitas serupa di kemudian hari. Investigasi WIRED lainnya minggu ini menemukan bahwa Grok milik xAI masih menghosting deepfake seksual, termasuk gambar dan video yang telah “dinudifikasi,” dari para selebriti dan setidaknya satu politisi terkemuka di AS.
Setelah membatasi perilisan model AI kelas Mythos yang baru akibat kekhawatiran akan dampak potensialnya terhadap keamanan siber, Anthropic mengumumkan peningkatan model untuk mitra di grup akses terbatas mereka minggu ini dan meluncurkan versi model yang “aman” untuk publik dengan pengaman untuk mencegah sistem digunakan dalam peluncuran serangan siber. Sementara itu, Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur Amerika Serikat minggu ini mengeluarkan arahan baru untuk lembaga federal sebagai respons terhadap ancaman AI baru, sebuah langkah yang mencakup persyaratan untuk memperbaiki kerentanan perangkat lunak paling mendesak dalam waktu tiga hari.
Seiring Eropa berupaya memisahkan dan mengisolasi diri dari raksasa teknologi AS, WIRED membuat linimasa yang melacak berbagai cara pemerintah negara-negara anggota Uni Eropa, perusahaan, dan organisasi lainnya beralih dari teknologi AS. Sebuah proyek sumber terbuka anyar yang bernama Encrypted Spaces berpotensi digunakan untuk membuat aplikasi kolaborasi arus utama lainnya menjadi lebih privat dan tahan terhadap pengawasan dengan enkripsi ujung-ke-ujung. Selain itu, menurut laporan kongres gabungan AS, situs web apotek ilegal dan penipuan membajak peringkat pencarian Spotify melalui penggunaan podcast palsu.
Piala Dunia 2026 tengah berlangsung meriah, dan WIRED mengamati teknologi pengawasan, mulai dari teknologi anti-drone hingga pengenalan wajah, yang digunakan di stadion-stadion di AS, Kanada, dan Meksiko. Kami juga memetakan setiap pembaca plat nomor kendaraan Flock di dekat stadion Piala Dunia AS. Secara lebih luas, Amnesty International menyatakan minggu ini bahwa pihaknya menyimpulkan para penggemar di ketiga negara tuan rumah—baik penduduk lokal maupun pengunjung—berpotensi menghadapi pelanggaran hak asasi manusia sebagai akibat dari turnamen FIFA.
American Civil Liberties Union menggugat dua departemen kepolisian di Florida atas penggunaan sistem FACES, salah satu alat pengenalan wajah paling lama beroperasi di AS, setelah dugaan penyalahgunaan alat itu menyebabkan penangkapan salah seorang pria dari Fort Myers. Donald Trump, sementara itu, mempertaruhkan masa depan wewenang pengawasan utama setelah memilih Bill Pulte, yang dideskripsikan sebagai “sangat tidak berkualifikasi,” sebagai pelaksana tugas direktur intelijen nasional. (Trump kemudian memilih calon alternatif untuk posisi tetap tersebut.)
Dan masih ada lagi. Setiap pekan, kami rangkum berita keamanan dan privasi lain yang belum sempat kami liput secara mendalam. Klik judul berita untuk membaca cerita selengkapnya, dan tetap selalulah aman di luar sana.
Sulitnya anonimitas digital di dunia modern, memperoleh nomor telepon tanpa mengungkap informasi identitas—apakah dengan membeli ponsel sekali pakai temporer, atau mendaftar akun ke operator yang menjaga privasi—tetaplah legal di AS. Kini, Federal Communications Commission (FCC) ingin mengubahnya.
Akhir bulan lalu, FCC meruilis proposn untuk aturan baru penerapan persyaratan kenali pelanggan (know-your-customer) bagi jaringan seluler. Aturan ini mengharuskan penyedia seluler “setidaknya, untuk memperoleh dan menyimpan nama, alamat fisik, nomor identitas yang terbitkan pemerintah, dan juga nomor telepon alternative dari setiap pelanggan baru dan yang perpanjang, sebelum memperoleh akses je layanaanya terbut. Aturan dijelaskan sebagai sebuah langkah serupa dengan undang-undang anti pencucian uang yng bertujuan memberatn scamer mencoki ia.