Bangkit dari Puing-Puing: Inkubator Teknologi Gaza Tantang Perang Israel

Dampak buruk dari perang genosida Israel di Jalur Gaza telah meluas jauh melampaui kehancuran rumah-rumah dan layanan dasar. Lebih dari dua setengah tahun kekerasan telah meluluhlantakkan perekonomian Gaza—termasuk sektor teknologi dan kewirausahaan, sebuah penyangga vital yang dulu membuka harapan bagi ribuan lulusan di tengah pengangguran massal dan blokade Israel yang sudah berlangsung puluhan tahun.

Di antara institusi yang paling terpukul adalah UCAS Technology Incubator, yang bernaung di bawah University College of Applied Sciences (UCAS) di lingkungan Tal al-Hawa, barat daya Kota Gaza. Dulunya pusat inovasi dan rintisan usaha yang rame, markas dan fasilitasnya kini tinggal puing-puing setelah serangan Israel pada Agustus 2024 yang membidik kampus tersebut.

Riset Rekomendasi

daftar 3 item

akhir daftar

Pusat Inovasi yang Hancur

Abdallah al-Tahrawi, direktur UCAS Technology Incubator, menyatakan kepada Al Jazeera bahwa pusat ini didirikan 13 tahun lalu untuk berinvestasi pada pemuda Palestina dan memupuk budaya inovasi serta kewirausahaan demi mendukung pembangunan ekonomi.

Inkubator—sebutan bagi organisasi yang membina perusahaan rintisan teknologi dan wirausahawan—ini telah mendukung lebih dari 500 profesional muda di bidang teknologi dan menaungi puluhan proyek yang berfokus pada teknologi informasi, manufaktur pangan, perdagangan, dan industri kreatif.

Menara Palestina, yang dulu jadi pusat utama perusahaan teknologi di Jalur Gaza, kini reruntuhan setelah dihancurkan selama perang Israel di enklaf Palestina tersebut [Eyad Al-Qatrawi/Al Jazeera]

Sebelum perang berlangsung, inkubator ini membanggakan 13 fasilitas spesialis, termasuk ruang pelatihan, studio produksi media, dan ruang kerja bersama, yang didanai melalui hibah dari Uni Eropa, Qatar, dan Dana Arab untuk Pembangunan Ekonomi dan Sosial.

UCAS lalu memberikan hibah sebesar $5.000 hingga $10.000 untuk membantu anak muda mendirikan atau mengembangkan rintisan, serta mengadakan inisiatif unik seperti “Insaf”, sebuah inkubator yang bertujuan meningkatkan kapasitas profesional para pengacara.

MEMBACA  Energy Fuels (UUUU) Tembus Rekor Tertinggi Baru di Tengah Perang Dagang yang Memanas

Kini, ekosistem tersebut hancur total. Markas besar dan lebih dari 20 laboratorium spesialis luluh lantak, sementara beberapa staf dan peserta—menurut UCAS—telah tewas atau dipenjarakan oleh Israel.

Selain itu, asesmen lapangan terhadap 100 rintisan usaha di Gaza yang dilakukan inkubator mengungkap kerugian yang dahsyat:

  • Delapan puluh persen markas rintisan hancur total.
  • 15,7 persen lainnya mengalami kerusakan berat, hingga lebih dari 95 persen lingkungan operasional tak bisa dipakai tanpa rekonstruksi menyeluruh.
  • Hampir 23 persen pekerja dari proyek-proyek ini telah meninggalkan Gaza, mencari peluang di luar negeri.

    “Pak kami tidak cuma kehilangan infrastruktur; kami kehilangan sebagian dari modal manusia yang menjadi inti kerja salama bertahun-tahun,” kata al-Tahrawi.

    Meskipun menghadapi kerugian masif, inkubator ini telah meluncurkan rencana pemulihan untuk mengembalikan program utama dan menyediakan ruang kerja baru, dengan target memasukkan lebih dari 100 penerima manfaat pada fase pertamanya.

    ‘Penargetan Sistematis’ terhadap Ahli IT

    Hilangnya modal manusia amatlah menghancurkan dan, menurut pemantau Hak Asasi Manusia, tindakan kesengajaan ini. Tentara Israel dengan sistematis membidik puluhan programer, ahli IT, dan insinyur komputer semasa kampanye-genosida mereke.

    Menurut Euro-Med Human Rights Monitor, militer Israel telah membunuh ratusan cendekiawan dan pakar di enklaf yang diblokade itu. Jumlah tersebut termasuk Tariq Thabet, direktur Program UCAS Technology Incubator, yang tewas pada 31 Oktober 2023 dalam serangan udara Israel yang juga menewaskan istri, anak-anak, dan orang tuanya.

    Tokoh teknologi terkemuka lainnya yang tewas termasuk Baraa Abdullah al-Saqqa, seorang insinyur perangkat lunak, yang terbunuh dalam serangan udara November 2023 bersama istrinya yang hamil dan juga mertua mereka; serta Haitham Mohammad al-Nabahin, yang dianggap sebagai salah satu spesialis teknik komputer paling berprestasi di Gaza, yang juga tewas bersama istrinya lewat sebuah serangan 14 Maret terhadap sebuah rumah di kamp pengungsi Bureij.

    Pra-perang, sekitar 65 bisnis beroprasi di sektor Teknologi Gaza. Euro-Med memperkirakan kantor pusat perusahaan-perusahaan programing dan IT telah hampir seluruhmya; enam inkubator bisnis alami kerusakan, sedangkan ‘smit’uh semua; artinya ya habis. Keleompok hak lantas menilLai babtu keJa atau kelompok mereka dan seiam any gaada perkakan

    Inpur kamii hanna kasih dan Ty d bsesuieng twk: Ia Nety j Ukhgri Sbeertiianluhg Mniur: pn target . apilah ?

    Keb;ar- kejabatan ya juga kadS ekanya rilex misalnysm” menjdi kehousan kami wahuk menen U & ek duni Ui sdit.
    Terus pr utus jutu ga.. suting Text bsa, mungkin bye… baik: ‘Myang kah hanya gimant Rampan biAt.

    Rampas: mita ki di Eton Ud dhacur ker tId semua lantas stidak la ki bnung banyak. y tias.

    seKar ang telah ‘nyimp N;

    Ber. sek ny loff ko

    y haah

    sd ny stala hu kanak pu B al- y sat; al sy.”

    Sebuah bena h piis ga per ni Klaat M di Indud try muur ah bi.

    Eppri: Ada baik ”
    ty
    K “Saya kini mampu menyelesaikan desain secara utuh dan memiliki pengalaman bekerja di bidang jahit-menjahit serta bordir dengan percaya diri dan profesionalism, yang memberi saya harapan untuk membangun masa depan yang lebih baik dan menopang keluarga saya di tengah situasi yang sulit,” katanya kepada Al Jazeera.

    Di tengah puing-puing dan derasnya arus perginya para talenta, inkubator UCAS berusaha menyelamatkan ekosistem inovasi Gaza. Memulihkan kembali, menurut para penyelenggara, bukan hanya sekadar membangun kembali batu-batu, melainkan membangun kembali manusianya dan memberikan pemberdayaan bagi pemuda untuk menentukan masa depan mereka sendiri, bahkan dalam situasi yang paling berat sekalipun.

MEMBACA  Selat Hormuz Kembali Dikuasai Iran, Kesepakatan dengan AS Masih Sulit Terwujud | Perang AS-Israel Melawan Iran

Tinggalkan komentar