Trump sebut perang Iran sebagai ‘latihan militer’ saat pertempuran Selat Hormuz memanas, bantah pernah berjanji tidak ada perang baru

Rudal dan drone beterbangan di seberang Teluk Persia, tapi Presiden Donald Trump mengecilkan perang yang diluncurkan AS dan Israel melawan Iran 100 hari lalu.

Dalam wawancara dengan acara Meet the Press di NBC bersama Kristen Welker, dia ditanya apakah AS sedang berperang dengan Iran mengingat komentar terbaru Menteri Luar Negeri Marco Rubio yang mengatakan perang sudah selesai.

"Yah, mereka sudah hampir dipenggal. Dan saya sebut ini latihan militer karena orang-orang lebih suka disebut seperti itu. Ini bukan perang besar bagi kami. Bukan," jawab Trump.

Sementara itu, gencatan senjata rapuh antara AS dan Iran sudah berlangsung sekitar dua bulan, tapi negosiasi untuk perdamaian yang lebih abadi macet.

Akibatanya, Selat Hormuz sebagian besar masih tertutup, meski lalu lintas kapal mulai meningkat, dan AS masih mempertahankan blokade laut, yang dianggap sebagai tindakan perang.

"Mereka pasang blokade dan kami blokade mereka," kata Trump ke NBC. "Dan kami punya blokade paling kuat. Saya tidak anggap itu perang, tapi kalau kamu mau mendefinisikannya seperti itu, mungkin bisa."

Dia nambahin, "Saya tidak mendefinisikanya sama sekali. Saya tidak mikirin itu. Saya cuma lakukan apa yang harus dilakukan."

Tapi pertempuran belum benar-benar berhenti. Malahan, ini semakin memanas karena Iran meluncurkan rudal dan drone ke sekutu AS di wilayah itu, sambil juga mengancam kapal-kapal komersial.

AS merespon dengan menembak jatuh proyektil, menghancurkan kapal Iran, dan mengebom situs rudal di Iran yang mencoba menembak jatuh pesawat AS.

Akhir pekan lalu, AS melumpuhkan sebuah kapal yang mencoba menerobos blokade lautnya dengan menembakan rudal ke ruang mesin. Juga akhir pekan lalu, AS melakukan "serangan bela diri" di Goruk, Iran, dan Pulau Qeshm.

MEMBACA  Israel memulai serangan udara baru terhadap target-target Hizbollah

Pada hari Jumat, Komando Pusat mengatakan pasukan AS menembak jatuh rudal dan drone Iran yang diluncurkan ke arah Selat Hormuz dan negara tetangga di Teluk. Lalu Komando Pusat mengumumkan Sabtu malam waktu AS (Minggu pagi di Timur Tengah) bahwa dua drone Iran lagi ditembak jatuh.

Meskipun 13 anggota militer AS tewas dalam konflik Iran dan ribuan orang Iran, Trump sensitif soal menyebutnya perang.

Pada bulan Maret, dia berkata "mereka tidak suka kata perang karena kamu seharusnya minta persetujuan." Trum lalu nambahin dia lebih suka menyebut perang Iran sebagai "operasi militer", mirip dengan penggunaan istilah "operasi militer khusus" oleh Rusia untuk invasi ke Ukraina.

Tapi saat opini publik memburuk, Kongres menunjukan sikap lebih tegas untuk membatasi presiden. Pada hari Rabu, Dewan Perwakilan Rakyat memilih 215-208, dengan empat Republikan bergabung dengan Demokrat, untuk mengekang kemampuan Trump berperang melawan Iran.

Pejabat pemerintahan sebelumnya berargumen bahwa Undang-Undang Kekuasaan Perang, yang butuh otorisasi kongres untuk aksi militer lebih dari 60 hari, tidak berlaku untuk Iran karena adanya gencatan senjata.

Belakangan dalam wawancara NBC, Trump ditekan soal melanggar janjinya untuk tidak memulai perang baru, yang merupakan pesan konsisten selama kampanye 2024-nya.

"Heh, saya tidak menjamin tidak ada perang," klaimnya. "Kenapa saya harus membangun militer paling kuat di dunia?"

Trum nambahin dia tidak mau menggunakan militer, "tapi saya ngelakuin ini demi kebaikan Anda dan semua orang."

Selama masa jabatan keduanya, dia secara stabil mengerahkan militer. Juni lalu, AS mengebom fasilitas nuklir Iran di tengah perang Israel melawan rezim itu. Pada bulan Januari, pasukan AS menangkap diktator Venezuela Nicolas Maduro. Dan serangan udara AS di kapal-kapal diduga narkoba terus berlangsung setelah dimulai musim gugur lalu.

MEMBACA  Prajurit memberi tahu adiknya bahwa ia tidak bisa hadir di pernikahannya, dan kemudian memberikan kejutan mengejutkan: 'Sebuah Mimpi' (Eksklusif)

Laju operasi begitu berat sehingga stok amunisi kunci AS mulai menipis, dan USS Gerald Ford baru saja menyelesaikan penempatan terpanjang untuk kapal induk sejak Perang Vietnam.

Sebaliknya, Trump berjanji selama pidato kemenangan November 2024 bahwa "Saya tidak akan memulai perang. Saya akan menghentikan perang."

Dan saat berkampanye lebih awal tahun itu, dia berkata, "Saya tidak akan mengirim Anda bertempur dan mati dalam perang asing yang tidak pernah berhenti. Saya tidak akan mengirim putra putri kami berperang di negara yang belum pernah Anda dengar. Kami tidak akan lakukan itu."

Tinggalkan komentar