Gaya Hidup Dua Lipa: Membangun Imperium Digital

Dua Lipa telah menjelma menjadi tipe bintang pop modern yang sangat spesifik.Tentu saja dia terkenal, cerdas dengan selera luar biasa, cantik, kaya, dan terus-menerus berlibur. Namun, versi waktu senggang milik selebriti ini terasa tidak hampa, berbeda dengan kebanyakan rekan-rekannya.

Instagram Lipa bagaikan papan mood untuk versi impian dari fase dewasa: perjalanan, kuliner, dansa, teman-teman, buku, pakaian, aksi sosial, pantai, museum, dan seorang tunangan yang sangat, sangat menarik. Ia seolah tidak sedang menjual kemewahan, melainkan gagasan bahwa kesenangan adalah tujuan akhir yang sah. Dan ini tidak cuma lewat Instagram — platform editorialnya, Service95, memposisikan dirinya sebagai “konsultan budaya utama” melalui situs web, nawala, siniar, serta klub buku populer.

Saat ini, internet sedang terobsesi pada fantasi hidup indah tanpa mengubah setiap sendi kehidupan menjadi pekerjaan. Bayangkan papan suasana musim panas Eropa. Bayangkan nostalgia pada Anthony Bourdain. Bayangkan budaya baca ala “it girl”. Bayangkan TikTok perjalanan. Bayangkan fantasi ekonomi kreator tentang hidup yang sekaligus menjadi pekerjaan dan karya seni.

Penulis Madison Huizinga menyebutnya “Efek Dua”: merek yang dibangun di atas gagasan berkelimpahan dan menjadi pembelajar seumur hidup. Dan Lipa membangunnya di waktu yang tepat. Sebab, bagi banyak anak muda, fantasinya adalah memiliki cukup waktu, uang, dan ruang emosional untuk mengejar rasa ingin tahu. Membaca, bepergian, makan malam, belajar bahasa, berkarya seni, dan bersosialisasi. Intinya, menjalani hidup yang tak sepenuhnya dilahap produktivitas. Gen Z cenderengan tidak terlalu tertarik pada budaya kerja gila dibanding generasi sebelumnya — “the grind” kehilangan pamornya. Bukan berarti Lipa tidak bekerja keras (ia jelas bekerja keras) — hanya saja itu tidak tampak di umpan Instagram-nya.

MEMBACA  Aktivis Mengganggu Konferensi Amazon Terkait Kontrak Senilai $1.2 Miliar dengan Israel

Waktu senggang Lipa terasa berbeda dari, misalnya, seorang pawang media sosial yang memposting menginap di hotel bersponsor atau miliarder yang menunjukkan isi lemarinya (dalam artian pakaian) — dan ini bertahan meskipun Lipa bekerja sama dengan raksasa teknologi seperti Google untuk daftar restoran kurasi bersponsor di seluruh dunia. Hidupnya jelas berlebih-lebih, tetapi dibingkai sebagai pengayaan. Tentu saja, di situlah letak ketegangannya. Kehidupan Lipa tak bisa ditiru sebagian besar orang. Kebanyakan dari kita tidak bisa seenaknya membangun eksistensi internasional yang terdiri dari pantai, buku, pesta, dan makan malam dengan pencahayaan sempurna. Dan obsesi pada dirinya mungkin tak akan bertahan lama — memang tidak pernah.

Tinggalkan komentar