Guru Besar NYU Stern, Suzy Welch, Sebut Nasihat ‘Ikuti Passion-Mu’ sebagai Saran Karier yang Konyol

Banyak orang yang sukses di karirnya sering ngasih nasihat yang sama ke anak muda: "Lakuin apa yang kamu cintai, dan kamu gak bakal kerja seumur hidup." Tapi Suzy Welch, penulis dan profesor di NYU Stern School of Business, bilang nasihat tua itu sebenarnya menyesatkan.

“Nasihat karir paling jelek yang sering diterima murid-murid saya—dan saya juga dulu—adalah lakuin apa yang kamu passionate," kata Welch dalam wawancara sama WSJ. "Nasihat yang sangat bodoh."

Pastinya wajar kalau pekerja punya fantasi karir sendiri, dan memang ada banyak cerita sukses orang yang berhasil. Tapi profesor manajemen ini bilang terlalu banyak syarat buat beberapa impian bisa terjadi di dunia nyata. Kadang, orang memang gak cocok buat karir yang mereka pengen; tanpa bakat atau kepribadian yang pas, susah banget buat ngubah hobi jadi kerjaan penuh waktu.

"Aku benci nasihat itu karena kamu juga harus pinter di bidang itu. Kamu harus jago, kalau gak ya jadinya cuma hobi," lanjut Welch. "Terus ada juga kondisi emosional kamu. Beberapa kerjaan butuh tipe kepribadian yang beda. Kepribadian kamu itu cara dunia ngeliat kamu. Dan makin cepet kamu sadar itu, makin baik."

Welch ungkap tipe mahasiswa yang berhasil

Selama puluhan tahun jadi jurnalis, profesor, dan pembicara publik, Welch punya mata yang tajam buat liat tanda-tanda sukses dan gagal. Dia bahkan liat pola yang sama di mahasiswa bisnisnya; mereka yang fokus ke kemampuan dan nyocokin kerjaan sama diri mereka sendiri bakal berhasil.

"Orang yang berhasil biasanya punya beberapa hal," kata Welch di wawancara WSJ. "Mereka kenal diri sendiri. Mereka nyari kerjaan yang ada di titik temu nilai-nilai, bakat, dan minat mereka."

MEMBACA  Denda yang Diberikan kepada Eksekutif Utama yang Bijaksana atas Pembayaran Pajak

Mahasiswa yang sukses setelah lulus juga berani ambil risiko besar. "Mereka yang berhasil punya selera risk yang lebih tinggi, dan lebih nyaman sama kegagalan," tambah Welch. "Anak muda yang mulai dan bilang, ‘Aku bakal ambil risiko besar sebelum punya cicilan’ biasanya terus bangkit, dan orang mulai percaya sama mereka." Welch ngaku ambil resiko besar itu "nasihat yang menakutkan," tapi itu bisa ngasih hasil jangka panjang yang lebih bagus.

Dia bilang mahasiswa yang gagal biasanya pilih jalan karir yang gak cocok sama kekuatan mereka: "Mereka lakuin itu karena keliatan bagus, atau karena disuruh orang tua."

Para pemimpin setuju: ikuti passion itu nasihat buruk

Welch gak sendirian. Aktris pemenang Oscar Reese Witherspoon gak pake pemanis soal nasihat karir: bakat itu lebih penting dari mimpi. Bintang Legally Blonde ini bilang tugas pekerja itu cari tau keahlian apa yang cocok sama impian mereka dan ambil kerjaan yang sesuai.

"Ini penting banget. Kamu jangan ngejar mimpi, kamu ngejar bakat," kata Witherspoon di Instagram. "Semua orang punya mimpi. Tapi itu gak berarti kamu bakal jadi itu. Kamu harus lakuin apa yang kamu berbakat."

Anggota Shark Tank Robert Herjavec juga belajar dari Mark Cuban, bahwa hidup gak peduli sama passion kamu. Alih-alih ngejar karir impian, Herjavec saranin pekerja mengerahkan semua energi ke satu hal yang gak bisa mereka tinggalin. "Passion itu gampang, karena passion itu harapan, tapi obsesi itu tindakan. Passion gak minta apa-apa darimu. Obsesi butuh segalanya," kata Herjavec ke Fortune.

Terus, ketika ekonomi lagi gak pasti, konsep itu mungkin gak tercapai. Tapi investor Vinod Khosla percaya AI bisa ngubah itu. Dia prediksi kalo semua impian karir, walau gak stabil secara finansial, bakal mungkin kalo teknologinya udah maksimal. "Lima belas tahun lagi kamu bakal bilang, ‘Ikutin passionmu’," kata Khosla di podcast Fortune. "Ikutin passion itu nomor dua setelah bertahan hidup. Saya pikir bertahan hidup bakal ilang, dan kamu bakal bilang ke semua anak 5 tahun, ‘Ikut-in passionmu." tentu, ini dia teks yang udah di rewriting dan diterjemahin ke level B1 Indonesia, dengan maksimal 2 salah ketik (typo).

MEMBACA  Perdana Menteri Prancis Menangkan Suara Anggaran yang Krusial

Hidup di kota besar tuh seru banget, banyak hal baru yang bisa dilihat setiap hari. Tapi, kadang-kadang repot juga karena lalu-lintas macet terus dan udaranya gak sehat. Kayaknya susah buat tenang di tengah suasana ramai yang gak pernah reda. Paling gw suka akhir pekan, bisa ke taman buat rileks dan lupa sejenak kerjaan yang numpuk. Banyak juga temen-temen yang ngajak ke mall atau restoran baru, emang sih asyik ikut perkembangan zaman, tapi musti atur budget biar dompet gak tipuq mulu sayanya. Lingkungan sekitar malah ada acara seni atau pasar underground yang unik, nebak hasilnya terjizn capek juga na, tapi tetap happy puasa deh buu tadinya— lebih kata baru pertemu wuwur baru lagi hir rakin waktu serabot ke dirinya sebentuk hurren ruma gerlo dalam kerindu punggung irung sun wals. Eh agak kacau diketeresan lagi ni nama diriwnya juga.

Tinggalkan komentar