Laporan Pekerjaan Mei Jauh Melampaui Ekspektasi—Mungkin Terlalu Jauh untuk Pasar

Pasar tenaga kerja ngasih kejutan besar lagi di hari Jumat: ada 172.000 pekerjaan baru di bulan Mei, padahal ekonom cuma meramal 88.000.

Yang lebih mengejutkan lagi pas dilihat ke belakang: angka Maret di revisi naik 29.000 jadi 214.000, April naik 64.000 jadi 179.000. Kalau digabung, dua bulan itu lebih kuat 93.000 dari laporan sebelumya.

Meskipun pasar tenaga kerja yang kuat ini kabar baik buat orang yang takut ekonomi bakal mandeg—atau AI bakal makan banyak pekerjaan —ini bisa bikin investor mengernyit. Data yang bagus ini bisa mematikan sisa-sisa harapan pemotongan suku bunga tahun ini, apalagi inflasi masih tinggi dan konflik di Iran masih berlanjut. Imbal hasil obligasi 10 tahun melonjak sekitar 6 basis poin ke atas 4,5%.

Tapi, tingkat pengangguran tetap di 4,3%, segitu terus sejak Juli tahun lalu, jadi kejutan lain dari laporan ini jadi gak terlalu penting.

Pasar kerja mulai bangkit di 2026 setelah tahun 2025 yang agak lesu. Setelah semua revisi dihitung, ekonomi cuma nambah sekitar 10.000 pekerjaan per bulan di 2025. Di 2026, rata-ratanya sudah 114.000 per bulan.

Tapi kalau dilihat lebih dalem, perekrutan masih cukup terpusat. Sektor hiburan dan perhotelan nambah 70.000 pekerjaan di Mei—lima kali lipat rata-rata 12 bulannya—dengan restoran dan bar aja merekrut 48.000 orang. Pemerintah daerah nambah 55.000, dan kesehatan 35.000. Itu aja isi pestanya. Sementara itu, sektor keuangan potong 22.000 pekerjaan dan turun 107.000 dari puncaknya setahun lalu, dan transportasi & pergudangan udah ngilangin 92.000 pekerjaan sejak awal 2025.

Gaji juga kayaknya gak seimbang. Rata-rata pendapatan per jam naik cuma 3,4% dalam setahun—yang paling lambat dalam empat tahun—dan di bawah inflasi yang hampir 4%. Orang Amerika makin cepet dapet kerja tapi gajinya lebih rendah, dalam hitungan nilai riil, terjadi barengan.

MEMBACA  Arena PON 2024 untuk mendukung pengembangan atlet di Aceh: Menteri

Ini balikin kita ke jebakan ekonomi. Buat The Fed, yang akan rapat 16–17 Juni, pasar tenaga kerja yang sekokoh ini jadi alasan lagi buat diem aja. Suku bunga yang diam di 3,50%–3,75% artinya biaya pinjaman—khususnya bunga KPR—tetep tinggi.

“Perekrutan yang kuat mendorong pembentukan rumah tangga, menjaga permintaan pembeli rumah tetap kuat, dan bantu pemilik rumah yang ada tetap bayar cicilan KPR,” kata Selma Hepp, kepala ekonom di Cotality. “Di sisi lain, pasar tenaga kerja yang panas ngasih sinyal ke Federal Reserve bahwa pemangkasan suku bunga mungkin ditunda… bunga KPR yang tinggi lebih lama bakal terus memberatkan keterjangkauan dan bikin jumlah rumah yang dijual tetap sedikit sampe akhir tahun ini.”

Tinggalkan komentar