Sudah cukup banyak perangkat AI yang dirilis ke pasaran sampai saat ini, dan sebagian besar cukup mirip satu sama lain. Ada pin AI seperti yang dipopulerkan dan akhirnya menjadi terkenal berkat Humane; ada liontin yang menggantung di leher seperti yang dibuat sama terkenalnya oleh perusahaan seperti Friend; dan ada juga apa pun yang disebut Rabbit R1.
Minggu ini, di konferensi developer tahunan Microsoft, Build, kita mendapat sesuatu yang baru, sesuatu yang revolusioner, sesuatu yang… seperti lencana. Faktanya, yang kita dapatkan adalah perangkat AI yang juga berfungsi sebagai lencana. Saya akan menunggu visi Anda kembali fokus—ini cukup banyak untuk dicerna.
Jika Anda merasakan sedikit sarkasme, itu karena perangkat AI telah memberi saya banyak alasan untuk menyambut ide-ide baru dengan mata yang mendelik sinis, dan tawaran Microsoft (entah itu konsep atau bukan) terasa seperti menambah bahan bakar untuk api skeptisisme itu.
Pertama, mari kita rekap: konsep lencana Microsoft persis seperti namanya. Sebuah perangkat keras seperti lencana yang dikenakan di leher. Namun, ini bukan lencana biasa; perangkat ini penuh dengan teknologi di dalamnya. Ia memiliki layar sentuh, pembaca sidik jari, konektivitas Wi-Fi dan 5G, mikrofon untuk perintah suara, dan yang menjadi favorit pribadi saya, kamera yang menghadap ke samping. Untuk mendemonstrasikannya, teknisi Microsoft, Steven Bathiche, mengarahkan lencana itu ke orang banyak di Build dan berkata, “Copilot, carikan beberapa gambar bagus dari ini, bersihkan, lalu kirimkan kepada saya untuk ditinjau oleh tim saya.” Keren? Dia tidak menunjukkan hasilnya kepada audiens Build, dan itu cukup indikatif. Seberapa baik Copilot membersihkan gambar-gambar itu?
© Screenshot by Gizmodo
Semua perangkat keras ini dirancang untuk mengarahkan pemakainya kembali pada apa yang disebut Microsoft sebagai Project Solara, yaitu sistem operasi perusahaan untuk AI agenik, atau AI yang benar-benar dapat melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi Anda. Microsoft membayangkan lencana ini sebagai produk perusahaan, dirancang untuk dikenakan di leher para perawat, pekerja retail, dan orang-orang pekerja keras lainnya.
Dengan perangkat AI (ataukah loadget?), para pekerja dapat melakukan hal-hal seperti merekam percakapan dan menggunakan kamera untuk “lebih memahami dunia di sekitar mereka”. Sejujurnya, saya tidak begitu paham apa yang seharusnya dilakukan orang dengan lencana AI, dan saya juga tidak yakin Microsoft mengetahuinya.
Dalam penjelasan perusahaan mengenai lencananya, bersama dengan konsep komputer meja lain yang mirip hub rumah pintar, Microsoft memberikan sedikit gambaran tentang bagaimana perangkat keras ini bisa digunakan, tetapi tidak lebih dari apa yang baru saja saya ceritakan. Sifatnya sengaja dibuat samar, meskipun saya juga yakin Microsoft tidak punya pilihan selambat itu untuk bersikap samar. Masih banyak yang harus dicari tahu tentang perangkat keras AI, dan Microsoft bukan satu-satunya yang kesulitan menebak kuncinya.
OpenAI, misalnya, juga memiliki rencana besar untuk generasi perangkat keras AI berikutnya, meskipun upaya mereka untuk mewujudkannya di jalur produk konsumen tidak berjalan mulus, bahkan dengan bantuan legend desain Apple pun, Jony Ive. Menurut laporan dari Financial Times, perangkat AI pertama OpenAI menemui hambatan, dan tampaknya beberapa masalah ini serius—misalnya, kesulitan dalam mengumpulkan daya komputasi yang diperlukan. Masalah lainnya berpusat pada pengalaman pengguna, seperti membuat perangkat AI berbasis suara mereka paham kapan harus diam dan kapan harus mendenggarkan.
OpenAI belum banyak mengungkapkan secara resmi tentang perangkat kerasnya, tetapi jelas mereka masih tertarik di bidang ini. Pekan ini, Wired melaporkan bahwa, dengan pendanaan OpenAI, Opal, sebuah perusahaan yang tadinya fokus pada webcam khusus, mulai beralih ke perangkat AI. Upaya tersebut akan dimulai dengan “produk audio bertenaga AI”. Yang lebih menarik, Wired menyatakan bahwa CEO OpenAI, Sam Altman, saat ini sedang menguji produk audio AI misterius itu, begitu pula dengan eksekutif lainnya dari OpenAI. Perlu disebutkan juga bahwa salah satu perangkat AI pertama OpenAI dikabarkan akan berupa semacam pengeras suara pintar. Hmm.
Dengar, saya tidak bisa bilang tahu persis bagaimana keadaan di balik layar OpenAI dan pengembangan perangkat AI mereka. Namun jika harus menebak, kerja sama kecil dengan Opal ini mengindikasikan adanya kesulitan mereka dalam menggarap perangkat keras sendiri. Jika kesulitan memulai langkah, kenapa tidak mengucurkan uang kepada orang lain yang sudah melakukan kerja kerasnya? Saya rasa kita tidak akan tahu sampai perangkat AI pertama OpenAI tiba (mungkin) tahun 2027.
Jika ada satu hal yang pasti dari deretan perangkat AI saat ini, adalah bahwa tidak ada yang pasti. Meskipun begitu, hasrat menuju generasi baru yang samar-samar itu masih tidak surut. Bahkan,kabarnya Apple pun mulai menjajaknya, meskipun tidak ada yang tahu apakah upaya itu akan menghasilkan perangkat keras sungguhan yang bisa dibeli.
Sementara itu, kita perlu menyaksikan perusahaan-perusahaan melempar layar sentuh dan mikrofon ke dinding untuk melihat mana yang melekat. Jika tampilan lencana Microsoft adalah indikasinya, perjalanan kita masih panjang sebelum bisa berkeliling dengan perahaian AI yang bersifat agenik.