Bob Bradway punya istilah sendiri untuk pemimpin yang bakal sukses di era AI: “autodidact.” Orang yang penasaran, belajar sendiri, dan nyaman dengan ketidakpastian. Tipe orang yang bisa pegang alat baru hari Sabtu dan udah paham cara pakainya hari Minggu — dan ternyata, itu persis yang Bradway lakuin sendiri.
CEO Amgen ini habiskan akhir pekan dengan "vibe-coding," udah mewajibkan seluruh tim eksekutif senior untuk ikut kursus AI, dan bicara tentang kecerdasan buatan dengan lancar banget. Dalam wawancara podcast sama pionir AI Andrew Ng, dia dibilang: “Kamu lebih kedengeran kayak orang AI daripada CEO biotek.”
Ironisnya, Bradway memimpin perusahaan yang justru dibangun di atas kebalikan dari "autodidact." Kekuatan utama Amgen ada pada para ahlinya — ilmuwan yang udah bertahun-tahun belajar bahwa molekul itu barang yang rumit. “Koridor kami penuh sama orang yang paham bahwa mengganti satu asam amino bisa punya akibat,” kata Bradway. “Kami harus hati-hati biar nggak kehilangan itu.”
Nah, tugas utamanya sekarang adalah menggabungkan dua hal ini: orang yang bisa beradaptasi dan ahli yang nggak tergantikan. Dan jarang ada CEO yang lebih siap buat ini. Soalnya Bradway nggak baru mulai mikir tentang AI sekarang. Dia udah mulai dari tahun 2012.
Tahun itu, Amgen beli DeCODE Genetics, perusahaan kecil dari Islandia yang punya data genetik hampir seluruh penduduk Islandia — ini bukan soal obat atau paten, tapi taruhan bahwa data dan AI suatu hari akan mengubah cara penemuan obat. Koleganya ragu. Bahkan Andrew Ng, yang kemudian jadi teman dekat, bilang waktu itu data genetiknya "belum bisa dipakai" dan menyarankan Bradway fokus ke AI yang lebih dekat kayak computer vision. Bradway ambil dua-duanya, dan sekarang ada SuperPod Nvidia yang bekerja di Reykjavik, Amgen punya model protein sendiri, dan lagi ngembangin desain antibodi tanpa contoh percobaan sebelumnya.
Hasilnya udah terasa, kata Bradway. Amgen sekarang milih kandidat obat untuk pengembangan klinis sekitar 50% lebih cepat. Daripada cuma ngandelin AlphaFold punya DeepMind, Bradway dorong timnya untuk lihat lebih jauh dan tentuin apa yang model itu bisa dan nggak bisa lakuin buat kebutuhan mereka — lalu bangun di atasnya. “Kami nggak cuma ngandelin satu pendekatan aja,” katanya.
Langkah berikutnya adalah "agentic AI," dan waktunya jelas: “2026 adalah tahun dimana kita semua harus paham apa itu agentic AI.” Peluangnya besar: ilmuwan sekarang buang waktu ngisi formulir, minta bahan, dan ngerangkum data — tugas yang bisa diambil alih sistem, biar peneliti bisa fokus ke hal yang cuma mereka bisa lakuin. “Itu sihir,” katanya. Di sinilah ketegangan antara autodidact dan ahli terselesaikan: AI itu membebaskan, bukan menggantikan. “Mudah-mudahan mereka punya lebih banyak waktu buat pake keahlian mereka yang sebenarnya, dan lebih sedikit waktu buat hal-hal kecil.”
Apa karyawan percaya dengan ini? Masalah lain. Bradway ngaku bahwa masyarakat Amerika umumnya nggak percaya AI, dan ketidakpastian bikin cemas. “Banyak misinformasi dan ketidakpastian. Manusia benci kalo nggak tahu. Makin terbuka kita ngasih tahu apa yang kita lakuin, menurut saya makin baik.” Tapi dia ngaku, “Saya nggak punya jawabannya, meskipun kaya yang bisa liat, saya adalah seorang optimis.”
Dan dia adalah optimis yang udah terbukti. Sementara CEO lain masih debat soal return investasi dari AI, Bradway malah bingung lihat kegelisahan itu. “Saya banyakan baca dan denger orang frustrasi karena nggak dapet untung dari investasi mereka. Saya agak heran,” katanya. Tapi dia juga bilang, di biotek, kesabaran itu wajib dan satu molekul aja bisa makan waktu 15 tahun, jadi rasa "herannya" mungkin karena perhitungan yang beda. Perusahaan yang nggak tahan ketidakpastian, katanya, mungkin justru akan ketinggalan.
“Datang terlambat ke pesta ini bakal mahal,” ujarnya. “Datang awal bisa dapet keuntungan beneran.”
Untuk cerita ini, jurnalis Fortune pakai AI generatif sebagai alat riset. Seorang redaktur udah memverifikasi kebenaran informasinya sebelum publikasin.