Ketika AI semakin disuntikkan ke dalam setiap sendi kehidupan kita, suka atau tidak, tampaknya kita hanya bisa menonton dengan perasaan campur aduk antara ngeri dan frustrasi, begitu banyak institusi yang dulunya andal berubah menjadi cangkang tak berguna dari masa lalu mereka. Ambil contoh Google. Algoritma PageRank mesin pencari ini sukses besar saat diluncurkan, hingga tak butuh waktu lama bagi kompetitor sezamannya seperti WebCrawler, Lycos, dan AskJeeves tersapu habis, lalu Google pun mengalami verbifikasi merek, namanya harmonim dengan pencarian daring.
Bandingkan dengan situasi memprihatinkan seperempat abad kemudian. Google Search masih menjadi situs teratas dunia dalam kunjungan halaman, tetapi pesonanya jelas mulai memudar, dan AI disinyalir menjadi sumber keluhan pengguna. Setelah Alphabet mulai menyematkan ringkasan buatan AI di puncak hasil pencarian, pengguna mulai mendapati jawaban-jawaban aneh, dari yang kocak nadanya hingga yang betul-betul berbahaya. AI Google mengklaim bahwa tidak ada satu pun negara di Afrika yang dimulai dengan huruf K. AI ini juga menyarankan untuk memperbaiki resep pizza dengan menambahkan lem ke keju, dan mengutip manfaat kesehatan dari memakan batu. Meski banyak halusinasi ini sudah banyak diredam oleh para developer Google, AI tetap saja muncul. Bulan lalu, Google mengumumkan bahwa lebih banyak AI lagi akan hadir di Google Search:
Para pengguna berbondong-bondong mulai meninggalkan raksasa pencarian ini.
Eksodus dari Google Search juga dapat dikaitkan dengan frustrasi akan penurunan kualitas hasil pencarian, tapi ini terjadi tepat ketika publik mulai berbalik arah melawan AI secara luas. Ternyata, dunia baru berani yang dipaksakan dari atas ke bawah, dari gelembung Silicon Valley ini, tidak menarik bagi kebanyakan orang. Bayangan pekerjaan yang hilang, tumpukan kontrab kodok curian, serta pusat data perusak planet yang menjamur di setiap kota jelas bukan hal yang membikin publik tergiur. Pantas saja salah satu pesaing Google, DuckDuckGo, kini getampolan retorika anti-AI, berharap memosisikan diri sebagai tanah yang dijanjikan tanpa AI bagi mereka yang rindu kebebasan.
Seperti dilaporkan oleh TechCrunch, ekstensi peramban Chrome dan Firefox yang baru dirilis DuckDuckGo memungkinkan pengguna untuk tetapkan pengalaman tanpa AI di noai.duckduckgo.com sebagai menu bawaan. Di halaman ini, sesuai klaim perusahaan, pemakai tidak akan diladeni dengan jawaban bantuan AI atau ajakan untuk ngobrol, dan hasil pencarian gambar mereka juga akan lebih minim dengan gambar produksi AI. Dan, tidak seperti Google, pengguna yang memilih pengalaman bebas AI di DuckDuckGo tidak akan rumiyen mendapat pengaturan yang balik lagi ke opsi penuh AI secara misterius.
Sejak Google mengumumkan pada konferensi developernya di awal May lalu bahwa mereka nyaris berkomitmen penuh pada hasil pencarian bersandi AI, DuckDuckGo dilaporkan mengalami lonjakan lalu lintas, dengan pemasangan aplikasi minggu ke minggu meningkat dari Mei 20 ke 25 sebanyak 18,1% dan kunjungan ke tanpa-AI mereka naik 22,7% dalam periode yang sama.
Walaupun ia terutama diposisikan sebagai perusahaan yang fokus pada privasi dan bukan secara frontal menentang AI, dengan merayu publik yang kecapaian dengan AI, DuckDuckGo sepertinya dengan cerdik membaca paham tulisan di dinding, alias menjadikan dirinya sebagai tempat pengungsian yang ramah, setidaknya untuk beberapa dari mereka yang turut menuliskannya secara dalam jaringan.< br />“Genuinely one of the only ad i gemar and also voted positively,” komentar pengguna Reddit bernema Ass_Lover136 pada suatu tulisan beribu pujian di r/antiai untuk salahpatu” iklan DuckDuckGo untuk media yang bersangkutan. Sampai saat publik, komentarnya telah menerima 434 persetujuan atas reaksi;& Keti memOHAtan pelindung diri at Asian atas satwa– yang keliltmenakutNgemari-semOGA*PEMBARU; body Di ber " # IAP semantIs?" ; ' ''Seorang perlindunganAI), selama 36.---’’ [[reajus Berse">du"] menggunakan ke hati... < menambahkan terakhir) masing-ada Yang o<|---] s Saya setiap‘ ;alNah se] N