Dunia dalam Krisis, Pemimpin Wajib Membangun Relasi

Loading…

JAKARTA — Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya ngungkap alasan Presiden Prabowo Subianto sering banget melakukan kunjungan ke luar negeri selama 1,5 tahun terakhir. Teddy nerangin, kalao Prabowo jadi Presiden Indonesia, dunia lagi dilanda krisis.

Menurut Teddy, kepala negara harus membangun hubungan dengan pimpinan negara lainnya. “Masalahnya protokoler dan frekuensi ke luar negeri dalam 1,5 tahun terakhir. Jadi Presiden Prabowo itu adalah presiden baru yang mulai menjabat saat dunia lagi krisis,” kata Teddy di akun Instagram @sekretariat.kabinet, Senin (1/6/2026).

Lebih lanjut Teddy bilang, sebelumnya ada konflik di Ukraina, Venezuela, sekarag juga di Iran dan Timur Tengah yang melibatkan Saudi, Qatar, Bahrain, UAE, dan lain-lain. “Jadi setiap pemimpin tentu harus membangun kedekatan antar pemimpin dunia,” katanya.

Ia nambahin, Indonesia tidak bisa cuma minta tolong ke negara lain saat krisis udah terjadi. Presiden harus jalin hubungan baik. Biar pas ada kondisi genting, Indonesia bisa minta bantuan.

Baca Juga:

Teddy Sebut Biaya Perjalanan Luar Negeri yang Melebihi Anggaran Ditanggung Presiden Prabowo

“Maka dari itu perlu kedekatan personal, kedekatan emosional antar pemimpin, baik secara langsung diliput media ataupun secara tertutup. Nah itulah diplomasi,” katanya.

Ia ngegas, salah besar kalo kunjungan Prabowo ke luar negeri dianggep cuma gagah-gagahan dan serimoni. Teddy minta warga untuk lihat hasil nyata selama 1,5 tahun ini.

Teddy juga ngasih tau beberapa capaian dari diplomasi Prabowo. Pertama, Indonesia masuk BRICS di saat lagi konflik krisis dunia.

Apa untungnya? Saat ini di tengah krisis dunia, kondisi kita aman. Stok BBM terjaga, harga yang subsidi tetap sama. Stok makanan aman. “Terus kedua, tarif nol persen di Uni Eropa untuk 25 negara. Kesahan itu udah urus-san belasan tahun, baru kesampain ya sekarang, tepatnya tahun 2025,” ceplosnya.

MEMBACA  Ahli Waris Benyamin Sueb Murka Melihat Video Olla Ramlan Joget di Klub

Tambahannya, ada laporan inbound invest ngiler sampai sekitar Rp 2.430 triliun. Dia soroti hasil kunjungan dia ke Jepang dan Korea Selatan dengan komitmen bisnis hampir US$33,89 miliar (Rp 575 triliin kinyis-kinyis).#

Tinggalkan komentar