Dengan blokade Iran di Selat Hormuz yang memaksa negara-negara teluk untuk mengurangin produksi minyak secara drastis, pemerintah di seluruh daerah ini semakin memperkuat investasi di proyek energi terbarukan di luar negeri. Ini menunjukan betapa pentingnya strategi tersebut di tengah krisis energi yang semakin parah.
Sekarang sudah memasuki bulan ketiga, perang AS-Israel melawan Iran telah menyebabkan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global menurut Badan Energi Internasional (IEA). Hal ini memberikan dorongan baru bagi negara-negara teluk untuk merencanakan diversifikasi campuran energi dan ekonomi mereka secara lebih luas.
Beberapa investasi besar untuk mendukung rencana ini telah diumumkan dalam beberapa bulan terakhir.
Pada bulan April, perusahaan energi terbarukan unggulan dari Abu Dhabi, Masdar, menandatangani perjanjian mengikat dengan TotalEnergies dari Prancis untuk membentuk usaha patungan 50/50 senilai $2,2 miliar. Usaha ini akan menggabungkan aktivitas energi terbarukan darat mereka di sembilan negara di seluruh Asia.
Pada awal Mei, dana kekayaan berdaulat Abu Dhabi, Mubadala Investment Company, mengambil saham minoritas yang signifikan di platform manajemen energi terbarukan yang berbasis di San Francisco, Power Factors. Perangkat lunak mereka digunakan oleh 70% dari 50 produsen energi terbarukan terbesar di dunia.
Mereka juga menginvestasikan $325 juta di proyek Hornsea 3 milik Orsted di lepas pantai timur Inggris bulan ini. Saat digabungkan dengan Hornsea 1 dan 2, proyek ini akan menjadi ladang angin lepas pantai tunggal terbesar di dunia dengan kapasitas total lebih dari 5 Gigawatt (GW).
“Banyak dari proyek ini adalah rencana yang sudah lama disusun,” kata Robin Mills, CEO Qamar Energy, sebuah perusahaan konsultan energi yang berbasis di Dubai, kepada Fortune.
“Saya rasa juga ada percepatan karena negara-negara teluk semakin memikirkan keamanan energi domestik mereka. Kejadian saat ini membuat lingkungan investasi untuk portofolio energi terbarukan di luar negeri menjadi lebih baik karena keinginan untuk lebih terdiversifikasi dan strategis.”
Pada Januari tahun ini, kapasitas energi terbarukan global Masdar mencapai tonggak penting sebesar 65 GW – naik dari 51 GW pada tahun 2025 – dan sudah dua pertiga dari target mereka untuk mencapai 100 GW pada tahun 2030.
“UAE ingin memonetisasi sumber daya minyaknya lebih cepat karena antisipasi puncak permintaan global dan juga untuk membebaskan pasokan gas yang lebih besar guna mendukung rencana pengembangan industri dan AI yang Ambisius.” – Robin Mills, CEO Qamar Energy
Sejak didirikan pada tahun 2006, perusahaan ini telah menginvestasikan $45 miliar di enam benua dan berencana untuk mengeluarkan tambahan $30-35 miliar dalam bentuk ekuitas, green bond, dan pembiayaan proyek pada dekade ini. Mereka ingin menambah kapasitas baru rata-rata 10 GW setiap tahun.
Keputusan UAE pada bulan April untuk keluar dari OPEC menunjukan perbedaan yang jelas dengan anggota lain mengenai peran minyak di masa depan.
Negara teluk itu sekarang menargetkan peningkatan kapasitas produksi minyaknya menjadi 5 juta barel per hari (bpd) pada tahun 2027, naik dari 3,4 juta bpd yang dicatat pada Januari 2026.
“UAE ingin memonetisasi sumber daya minyaknya lebih cepat karena antisipasi puncak permintaan dan juga untuk membebaskan pasokan gas yang lebih besar demi rencana Ambisius di bidang industri dan AI,” kata Mills, sambil mencatat bahwa gas sering diproduksi bersamaan dengan minyak, dan sebaliknya.
Tapi meskipun perang dengan Iran memperkuat komitmen strategis jangka menengah hingga panjang Dewan Kerjasama Teluk terhadap transisi energi, hal ini juga mengancam pembangunan proyek energi terbarukan domestik yang sudah direncanakan.
Data yang diterbitkan oleh Rystad Energy Norwegia pada pertengahan Mei menunjukan bahwa impor panel surya (PV) di negara teluk runtuh pada bulan Maret; impor UAE turun menjadi 160 MW dari 767 MW pada bulan sebelumnya, sementara impor Arab Saudi turun dari 704 MW menjadi 80 MW. Oman mencatatkan angka nol.
Ini sepertinya akan menyebabkan tantangan bagi Oman yang menanda tangani kontrak besar pada bulan Mei untuk proyek energi terbarukan 24/7 yang menggabungkan angin, surya, dan penyimpanan baterai. Proyek ini diharapkan menyediakan kapasitas tetap sekitar 770 MW.
Skema ini bagian dari pengembangan energi terbarukan hibrida yang lebih besar sebesar 2,7 GW di wilayah Mahout dan Duqm di pesisir Oman. Negara ini menargetkan 30% pembangkit listrik dari energi terbarukan pada tahun 2030.
Karena sebagian besar rantai pasokan energi bersih di teluk terganggu oleh blokade yang berlanjut, biaya pengiriman dari Shanghai ke Teluk dan Laut Merah mencapai rekor tertinggi. Ini disebabkan oleh lonjakan biaya bahan bakar dan persaingan ketat untuk mencari truk guna mengangkut kargo melalui jalan darat.
Biaya untuk mengirim kontainer standar 20 kaki (TEU) dari Shanghai ke Teluk dan Laut Merah melonjak dari $980 sebelum perang meletus menjadi $4,131 pada pekan hingga 15 Mei, menurut penyedia data pengiriman Clarksons Research.
Ini melebihi puncak pandemi Covid-19 yang mencapai $3,960 per TEU di tahun 2021.
Rystad Energy sekarang memperkirakan penundaan bersih antara tiga hingga dua belas bulan di seluruh jalur proyek energi terbarukan aktif di Timur Tengah.
“Gangguan di Hormuz berarti modal yang mungkin mengalir ke pembiayaan proyek domestik diarahkan ulang ke lingkungan tempat investasi yang lebih stabil sementara ketidakpastian rantai pasokan berlangsung,” kata Christopher Gooding, analis transisi energi di Cornucopia Capital dan peneliti di Gulf Sustain, kepada Fortune.
“Variabel utamanya adalah durasi. Jika gangguan Hormuz berembet hingga paruh kedua 2026, rentang penundaan tiga hingga dua belas bulan akan condong ke ujung yang lebih tinggi, dan beberapa proyek yang saat ini dalam tahap pengadaan kemungkinan akan di restrukturisasi atau ditunda hingga 2027.”