Pelajaran dari Perjalanan Nabi Ibrahim beserta Keluarganya

loading…

Ibadah haji itu sangat erat kaitannya sama sejarah Nabi Ibrahim As. Soalnya, praktik-praktik ritual ibadah ini dihubungkan dengan pengalaman-pengalaman yang dialami sama Nabi Ibrahim as dan keluarganya. Foto ilustrasi/ist

Di balik perintah dan makna ibadah haji, ada cerita dan pelajaran berharga dari perjalanan Nabi Ibrahim alaihisallam dan keluarganya. Kok bisa begitu?

Ibadah haji itu hubungannya banget sama sejarah dan kisah Nabi Ibrahim As. Karena ritual-ritual dalam ibadah ini dikaitkan dengan pengalaman yang dialami Nabi Ibrahim as bersama keluarganya.

Di buku “Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah”, Prof Dr Quraish Shihab bilang Ibrahim as dikenal sebagai “Bapak para Nabi”, juga “Bapak monotheisme”, dan “proklamator keadilan Ilahi”. Kepada beliau lah agama-agama samawi terbesar selama ini merujuk.

Para ilmuwan sering ngomongin soal penemuan-penemuan manusia yang pengaruh besar atau bahkan mengubah jalannya sejarah umat manusia. Tapi seperti yang ditulis al-Akkad, “Penemuan yang dikaitkan dengan Nabi Ibrahim as merupakan penemuan manusia paling besar dan nggak bisa diabaikan sama ilmuwan atau sejarawan. Ini nggak bisa dibandingkan dengan penemuan roda, api, listrik, atau rahasia-rahasia atom, sebesar apapun dampak penemuan-penemuan itu… yang mana itu semua dikuasai manusia, sedangkan penemuan Ibrahim menguasai jiwa dan raga manusia.”

Baca juga: link terkait

“Penemuan Ibrahim bikin manusia yang tadinya tunduk pada alam, jadi mampu menguasai alam, dan bisa menilai baik buruknya. Penemuan ini bisa bikin manusia bertindak seenaknya, tapi kesewenang-wenangan ini nggak mungkin dilakuin selama penemuan Ibrahim as itu masih melekat di jiwanya… penemuan ini berhubungan apa yang diketahui dan nggak diketahuinya, hubungannya dengan posisinya sebagai makhluk dan hubungan makhluk ini dengan Tuhan, alam semesta dan makhluk-makhluk lainnya…”

MEMBACA  MacBook Air Dijual Setengah Harga dari MacBook Pro, Ini adalah Salah Satu Penawaran Terbaik Prime Day Sepanjang Masa

Menurut Quraish Shihab, “kepastian” yang dibutuhkan ilmuwan tentang hukum-hukum dan cara kerja alam ini, nggak bakal didapetin kecuali lewat keyakinan pada ajaran Bapak Monotheisme itu. Soalnya, apa yang bisa menjamin kepastian tersebut kalo sekali Tuhan ini yang ngatur dan di lain waktu tuhan itu?

“Makanya monoteisme Ibrahim as nggak sekedar hakikat keagamaan yang besar, tapi juga pendukung akal ilmiah manusia, jadi lebih tepat, lebih teliti lagi, dan lebih meyakinkan,” katanya.

“Apalagi Tuhan yang diperkenalkan Ibrahim as bukan cuma tuhan suku, bangsa, atau golongan tertentu aja, tapi Tuhan seru sekalian alam, Tuhan yang imanen sekaligus transenden, yang deket sama manusia, hadir bareng mereka semuanya secara keseluruhan dan satu per satu, sendiri atau berkelompok, saat diam atau gerak, tidur atau jaga, waktu hidupnya, bahkan sebelum dan setelah hidup dan matinya,” lanjut Quraish.

Bukan Tuhan yang sifat-sifat-Nya jadi monopoli para tokoh agama, atau yang cuma bisa dihubungi sama mereka aja, tapi Tuhan seluruh manusia secara universal.

Ajaran Ibrahim as atau “penemuan” beliau, kata Quraish Shihab, benar-benar jadi lembaran baru dalam sejarah kepercayaan dan kemanusiaan, wlaupun tauhid dan keadilan Tuhan bukan hal yang asing sebelum masa beliau, juga pengabdian pada yang hak dan transenden.

Tapi semua itu sampai pada masa Ibrahim bukan ajaran kenabian utuh untuk seluruh umat manusia. Di Mesir 5000 tahun lalu pernah ada ajaran keesaan Tuhan, juga persamaan antar manusia, tapi itu cuma dekrit dari singgasana kusa yang akhirnya dibatalin sama penguasa setelahnya.

Tinggalkan komentar