Partai yang berkuasa di Ethiopia kini berusaha mempertahankan cengkeramannya di tengah fragmentasi elektoral yang semakin mencolok.
Jutaan warga Ethiopia akan menuju tempat pemungutan suara pada pemilihan umum tanggal 1 Juni.
Partai yang berkuasa di bawah Perdana Menteri Abiy Ahmed—yang telah mengkonsolidasikan kekuasaannya sejak menjabat pada 2018—menyatakan optimis meraih kemenangan.
## Cerita Rekomendasi- [×] List item 1
– [×] List item 2
– [×] List item 3
Pemerintahan Abiy menghadapi gejolak dan konflik yang berkepanjangan. Meskipun demikian, pihaknya menampilkan pemilu ini sebagai langkah berikutnya menuju apa yang mereka sebut sebagai demokrasi sejati.
Namun, para kritikus dan oposisi berpendapat bahwa hal tersebut tidak realistis akibat perpecahan etnis dan regional di Ethiopia. Beberapa partai oposisi dikecualikan dan kekerasan menghalangi pemungutan suara di puluhan daerah pemilihan.
Jadi, apakah pemilu ini memiliki arti penting?
Presenter: Mohammed Jamjoom
Narasumber:
Samuel Getachew – Jurnalis dan komentator yang mengkhususkan diri dalam politik dan keamanan Ethiopia Martin Plaut – Peneliti senior di King’s College London Bizuneh Yimenu – Dosen politik komparatif di Queen’s University Belfast yang menspesialisasikan federalisme.
Diterbitkan pada 31 Mei 202631 Mei 2026
Klik di sini untuk membagikan di media sosial
node bagikan
Tambahkan Al Jazeera di Googleinfo