Fenomena iklim yang sangat kuat sekarang ancam buat krisis energi di Asia makin parah. Kekeringan dan suhu panas tinggi, yang dipicu sama Super El Nino yang mungkin melanda daerah ini musim panas ini, bakal membebani jaringan listrik pas negara-negara masih sibuk cari pasokan minyak dan gas yang terbatas, macet gara-gara keputusan Iran untuk blokir Selat Hormuz buat kebanyakan kapal.
“Super El Nino ini bakal bikin rasa sakit ekonomi dari krisis energi yang lagi berlangsung jadi lebih parah,” kata Ming Yi, seorang ilmuwan iklim fisik dan profesor tamu di National University of Singapore (NUS). “Pasokan listrik di Asia bakal makin tertekan karena kekeringan kurangi pembangkit listrik tenaga air; petani bakal kena dampak berat, dan sektor manufaktur yang butuh banyak air seperti semikonduktor dan tekstil juga bisa terganggu.”
“Super El Nino” itu istilah buat versi El Nino yang sakit banget. El Nino adalah fenomena iklim biasa yang terjadi karena perubahan suhu laut alami. El Nino muncul setiap dua sampai tujuh tahun; Super El Nino lebih jarang, rata-rata tiap 10 sampai 15 tahun sekali. Selama Super El Nino, suhu laut naik lebih dari dua derajat Celcius, lepasin panas besar ke atmosfer. Beberapa model prakiraan peringatkan kalo suhu laut bisa naik lebih dari tiga derajat tahun ini, ngelewatin puncak 2,7 derajat yang tercatat tahun 1877.
“Lonjakan panas yang intens ini kerjanya kayak turbocharger buat cuaca dunia, yang ubah perubahan musim biasa jadi bencana global yang parah,” jelas Justin Sentian, profesor perubahan iklim dan ilmu atmosfer di Universiti Malaysia Sabah (UMS). Asia Tenggara dan India termasuk negara yang paling rentan efek El Nino, karena bergantung sama sektor yang sensitif iklim kayak pertanian, nelayan, dan pembangkit listrik tenaga air. Contohnya, Bank Dunia perkirakan sektor perikanan berkontribusi 2,6% dari PDB Indonesia dan lebih dari 7 juta pekerjaan.
Super El Nino tahun 1877, yang terkuat sejak catatan dimulai, bikin kekeringan besar dan gagal muson di India sama Cina. “Mungkin jutaan orang meninggal atau jatuh miskin di seluruh Asia,” kata Fiona Clare Williamson, sejarawan lingkungan dari Singapore Management University (SMU) yang pelajari dampak kekeringan El Nino tahun 1877, 1902, dan 1911. (Sebenarnya, kejadian inilah yang dulu dorong peneliti buat identifikasi pola iklim yang akhirnya disebut “El Nino-Southern Oscillation.”)
Udah ada tiga peristiwa Super El Nino sejak 1980-an: tahun 1992, 1997, and 2015. Ketiganya sebabin “gangguan ekonomi besar-besaran”, kata Yi, dengan kerugian ngelewati puluhan miiar dolar. Penelitian terbaru dari tim ilmuwan Dartmouth kasih tahu kalo harga aslinya sampai triliunan, dengan Super El Nino 1997 bikin kerusakan ekonomi $5,7 triliun. Tim itu prediksi total kerugian ekonomi dari El Nino abad ini bisa capai $84 triliun.
El Nino ketemu Iran
Bikin makin runyam, Super El Nino tahun 2026 ini terjadi pas Asia lagi menderita krisis bahan bakar gara-gara perang Iran awal tahun lalu. Negara-negara di daerah ini bergantung sama Timur
untuk minyak dan gas alam, yang sekarang terjebak gara-cren blokade Selat Hormuz. Dslapan puluh persen minyang lewar unt jal zr ir Tlimidu&1