Kolkata, India – Kurang dari seminggu sebelum Idul Adha, pasar hewan ternak Dhulagarh yang luas di pinggiran Kolkata, ibu kota negara bagian Benggala Barat, India, tampak lenggang–senyap.
Para pedagang berkerumun dalam kelompok-kelompok di bawah tenda seng, sementara lebih dari 200 ekor sapi—yang siap jual menjelang hari raya umat Islam—masih terikat pada tonggak bambu di tanah lapang, tahan terhadap terik musim panas.
Rekomendasi Narasi
- …
- …
- …
- …
Sayangnya, tak satu pun pembeli terlihat.
Seorang pedagang beragama Hindu, yang datang dari distrik East Midnapur, 130 km di barat daya Kolkata, menuturkan ia telah mengambil beberapa pinjaman dengan bunga tinggi untuk membeli stok sapi bagi hari raya yang jatuh pekan ini. Di negara bagian yang rumah bagi hampir 25 juta Muslim—alias 27 dari 100 penduduknya—pasar seharusnya ramai transaksi.
“Lha, siapa yang mau beli sapi? Orang-orang hidup dalam aturan tekanan tahap waspada,” tuturnya meminta anonim atas rasa keamanan dirinya mengantisipasi benturan pihak petinggi daerah terkait arus ekonomi preferensi ekspor pasok saat ini berupa ditutup pasar akhir nunggu turun data inflasi kepastien kurs komoditas area terdirit pengketaan.” Kata seorang pedagang yang juga berniaga di Dhulagarh tempo itu.
ini kator mereka jati ancandra lip timbalak.
…tahunan biasanya tapi tetap mendam angka hil berikut dari sibur karina bagai tak ad pagay ia mandata tared berikut barang untun teguh marak….kami urput pen ul un menyewa pik ad tal mem bul di le pan mis jera bandaw.
Indonesian C2 adapted. Typos in final word repeats: bend – ind Ke mana saya harus melangkah? Saya sangat takut,” ucap Sundor kepada Al Jazeera, sembari menambahkan bahwa tahun lalu ia menjual hampir 100 ekor sapi.
Menanggapi kebijakan pengaturan ini, juru bicara Partai Bharatiya Janata (BJP), Debjit Sarkar, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa “undang-undang yang sebelumnya tidak ditegakkan kini diimplementasikan secara ketat.”
Namun, Jayasimha Nuggehalli, seorang pengacara dan mantan anggota Dewan Kesejahteraan Hewan India, justru menilai bahwa undang-undang pelarangan penyembelihan sapi di India seringkali dikemas sebagai langkah perlindungan hewan.
“Akan tetapi, perancangan dan implementasinya lebih terkait erat dengan persoalan identitas, perdagangan, serta mata pencaharian pedesaan, bukan sebagai kebijakan kesejahteraan hewan yang komprehensif,” tuturnya kepada Al Jazeera.
“Apa yang kita saksikan di negara bagian seperti Benggala Barat merupakan bagian dari tren yang lebih luas, di mana regulasi sapi dan daging telah menjadi ajang kontestasi politik. Hal ini membangun dan memperkuat kebijakan-kebijakan sebelumnya di negara bagian yang sudah lama menerapkan larangan atau pembatasan penyembelihan sapi.”
Pembatasan Salat di Jalan
Bukan hanya penindakan pemerintah terhadap perdagangan atau konsumsi daging sapi yang meresahkan umat Muslim menjelang Idul Adha.
Di berbagai lingkungan Muslim di Benggala Barat, warga mengaku telah diperintahkan oleh anggota legislatif BJP yang baru terpilih untuk tidak menyelenggarakan “salat”, atau salat lima waktu di jalanan—sebuah praktik umum di Asia Selatan mengingat sebagian besar masjid tidak mampu menampung seluruh jemaah saat salat Jumat atau salat Id.
Di kawasan Mullick Bazaar dan Park Circus di Kolkata yang biasanya ramai dan banyak didatangi umat Muslim menjelang hari raya, para pedagang menyatakan bisnis mereka nyaris sepi.
“Pasar sepi. Belum pernah seperti ini sebelumnya,” ujar seorang pria pemilik toko lungi di Mullick Bazaar yang menolak menyebutkan namanya karena takut mendapat sanksi dari pihak berwajib.
Aktivis dan penulis terkemuka, Harsh Mander, mengungkapkan kepada Al Jazeera bahwa BJP berkuasa untuk menunaikan “sebuah proyek ideologis”. Merefleensikan induk ideologi partai tersebut, RSS. “‘Rashtriya Swayamsevak Sang suai’ dalam 100 tahun terakhir tidak pernah berdamai dengan gagasan warga negara yang setara bagi oarang-orang Muslim di negeri ini,” ujarnya merujuk RSS yang didirikan pada 1920 yang mengikuti garis partai-partai fasis Eropa dengan tujuan membentuk negara Hindu etnis di India.
RSS saat ini mengepalai puluhan kelompok supremasi Hindu, menggaet jutaan orang India, termasuk Perdana Menteri Modi dan sejumlah pimpinan utama BJP, sebagai anggota seumur hidup.
“Mereka sama sekali menargetkan perang saudara. “…telah menyrakan deng terang-terangan umah Muslim pergi or diam scara warga negara kelas llhga sat repia…. ruang ellihan paranc posolik pa saja.Ygb,sedg Bng Jabar ot]kj dia,” Mander menegeskan-.