Senin, 27 Mei 2026 – 15:05 WIB
VIVA – Gelaran MilkLife Soccer Challenge (MLSC) Kudus dan Malang Seri 2 2025-2026 akhirnya sampe di puncak setelah menyajikan persaingan seru dari ratusan tim SD dan MI. Turnamen sepak bola putri usia dini ini kembali membuktikan diri sebagai salah satu ajang pembinaan yang paling konsisten buat melahirkan bakat-bakat muda sepak bola putri Indonesia.
Di Kudus, MI NU Baitul Mukminin berhasil jadi juara di kategori KU 10, sementara SDN Jambean 02 Pati keluar sebagai pemenang KU 12. Di Malang, SDN Tulungrejo 02 jadi yang terbaik di KU 10 dan SDN Lowokwaru 3 menang di KU 12.
Program Director MilkLife Soccer Challenge, Teddy Tjahjono, bilang kalo kompetisi ini bukan cuma turnamen biasa, tapi bagian dari misi jangka panjang untuk membangun fondasi sepak bola putri nasional dari usia dini.
“MilkLife dan Djarum Foundation punya komitmen jangka panjang untuk bantu sepak bola putri Indonesia. MilkLife Soccer Challenge masuk tahun ketiga dan dari segi kualitas terus berkembang,” kata Teddy.
Menurut dia, keberlanjutan kompetisi jadi hal penting supaya pemain muda punya ruang berkembang melalui pengalaman bertanding yang kompetitif dan terarah.
“Pelaksanaan yang konsisten dan berkelanjutan kayak gini sangat penting buat bangun fondasi sepak bola putri. Dari sini, pemain dapat kesempatan berkembang, nambah pengalaman bertanding, dan sekaligus membangun mental kompetitif sejak dini,” lanjudnya.
Semangat peserta di seri Kudus dan Malang kali ini luar biasa banget. Di Kudus, turnamen berlangsung di Supersoccer Arena dan Lapangan Rendeng, diikuti oleh 1.391 siswi dari 89 sekolah yang terbagi dalam 66 tim KU 10 dan 64 timKU 12.
Di Malang, jumlah pesertanya lebih besar lagi. Sebanyak 2.161 siswi dari 122 sekolah ikut berpartisipasi di Stadion Gajayana, dengan delapan puluh dua tim KU 10 dan 116 tim KU 12.
Nggak cuma jumlah peserta yang naik, kualitas permainan para pemain muda juga dinilai semakin bagus dari seri ke seri.
Pelatih Kepala MilkLife Soccer Challenge, Timo Scheunemann, bilang kalo pembinaan sepak bola usia dini nggak bisa cuma fokus pada prestasi instan. Dia tekenin pentingnya latihan yang konsisten dan rasa cinta ke sepak bola.