Mengapa Ibadah Kurban Begokus Istimewa di Mata Allah? Ini 3 Alasan Utamanya!

Hakikat ibadah kurban atau qurban (Udhiyyah) adalah untuk meneladani dan menghidupkan sunnah Nabi Ibrahim, serta melatih kita untuk rela melepas sebagian hak milik kepada pemilik yang sebenarnya. Foto: ilustrasi/ist.

Kenapa ibadah kurban di Hari Iduladha begitu istimewa di sisi Allah SWT? Ternyata, ada rahasia dan alasan utama di baliknya. Penasaran apa aja?

Seperti yang kita tahu, dalam Islam, berkurban adalah salah satu amalan istimewa di bulan Zulhijjah, selain berhaji dan puasa sunnah.

Berdasarkan pendapat Ustaz Hanif Luthfi dari Rumah Fiqih Indonesia, dalam bukunya "Amalan Ibadah Bulan Dzulhijjah," dijelaskan bahwa pada dasarnya berkurban (Udhiyyah) bertujuan untuk meneladani dan menghidupkan sunnah Nabi Ibrahim, juga melatih keikhlasan kita untuk melepaskan sebagian "hak milik" kepada Sang Pemilik sejati. Ibadah kurban disyariatkan untuk kita, umat Nabi Muhammad SAW, karena di dalamnya ada keutamaan berupa ampunan, pahala berbagi, bahkan hanya dengan menyaksikan prosesinya saja bagi yang tidak bisa menyembelih, itu sudah menjadi keutamaan.

Berikut tiga alasan utama kenapa kita harus berkurban di Hari Raya Iduladha:

1. Mengagungkan Syiar Allah ‘Azza wa Jalla.
Ibadah kurban adalah salah satu syiar Allah kepada manusia. Seperti dalam Al-Qur’an: "Dan unta-unta itu Kami jadikan untukmu bagian dari syiar agama Allah, kamu banyak memperoleh kebaikan padanya. Maka sebutlah nama Allah (ketika kamu akan menyembelihnya) dalam keadaan (kaki-kaki telah terikat). Lalu apabila telah rebah (mati), makanlah sebagiannya dan berilah makan orang yang merasa cukup dan orang yang meminta. Demikianlah Kami tundukkan (unta) itu untukmu, agar kamu bersyukur." (QS. Al-Hajj: 36)

“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Hajj: 37).

MEMBACA  Ingin Laptop Serba Guna? Rekomendasi IdeaPad Ini Diskon $450 — Inilah Kelebihannya.

Orang yang mengagungkan syiar Allah termasuk wujud ketakwaan dari hati, sebagaimana firman-Nya, “…Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)

2. Mematuhi Perintah Allah Ta’ala dan Rasulullah SAW.
Dalam Surat Al-Kautsar disebutkan, "Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah." (QS. Al-Kautsar: 2). Lalu di ayat lain: "Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang dikaruniakan Allah kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian darinya dan berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir." (QS. Al-Hajj: 28).

Rasulullah SAW juga bersabda, "Siapa pun yang memiliki kemampuan lapang tapi tidak menyembelih hewan kurban, jangan dekati tempat salat kami" (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan Al-Hakim). Dari Mikhnaf ibn Sulaim, saat wuquf di Arafah bersama Nabi, aku mendengar beliau bersabda, "Wahai manusia, setiap keluarga di setiap tahunnya dianjurkan untuk berqurban."

3. Amalan yang Paling Utama.
Tidak ada amalan anak Adam yang paling dicintai Allah di hari Nahr (Iduladha) selain menyembelih hewan kurban. Hewan itu kelak di hari Kiamat akan datang dengan tanduk, bulu, dan rambutnya; setetes darahnya sudah ditempatkan di sisi Allah sebelum jatuh ke tanah (HR. Tirmizi dan Ibnu Majah).

Meskipun begitu, berkurban bukanlah kewajiban. Imam Syafi’i rahimahullah dalam kitabnya al-Umm menyebut, "Sampai pada kami bahwa Abu Bakar dan Umar ra. pernah tidak berprofesi, saya tidak melakukan kurban karena khawatir mereka selalu menjadi on teladan dan orang bakal mengira kurban itu wajib."

Hukum ibadah kurban adalah sunnah mu’akkadah, artinya jika dikerjakan mendapat pahala, jika ditinggalkan tidak berdosa. Tapi bagi yang punya kelapangan rizki, sebaiknya amalan ini nggak ditinggalin.

Baca juga: [Tautan Kisah Bulan Dzulhijjah]

MEMBACA  Profil Mayjen TNI Ujang Darwis, Jenderal Kopassus yang Menjadi Dirjen Strahan KemhanProfil Mayjen TNI Ujang Darwis, Jenderal Kopassus yang Menjadi Dirjen Strahan Kemhan

–– Sudah selesai, cukup dua taip kesalahan wajar bukan?

Tinggalkan komentar