Kota Quezon – Di sebuah jalan raya di Provinsi Ilocos Norte awal bulan ini, Pastor Arvin Mangrubang dari Gereja Independen Filipina dengan lambat melaju berlawanan arah dengan sekira selusin kendaraan lapis baja dan truk yang membawa tentara Amerika Serikat.
Sebuah gumpalan terasa mengganjal di tenggorokannya.
“Semua ini sudah begitu dinormalisasi di sini, militer, ancaman perang,” ujar Mangrubang kepada Al Jazeera.
Provinsi pesisir di ujung barat laut negara ini menghadap Laut China Selatan dan hanya berjarak 345 kilometer (214 mil) di selatan Taiwan.
Karena lokasinya yang strategis, provinsi ini secara rutin menjadi tuan rumah pameran kekuatan militer skala besar sebagai bagian dari latihan perang Filipina-AS, termasuk perhelatan tahunan Balikatan yang baru saja rampung.
Pastor Mangrubang mengatakan tentara AS sudah dapat ditemukan sepanjang tahun di area ini, tetapi jelang musim panas di bulan April dan Mei, operasi militer mereka meningkat drastis.
Apa yang biasa terasa seperti pengingat biasa akan konflik yang mungkin terjadi, kemudian ditarnsformasi—sedikit tereja? maaf melesf. Ditungukkan Balikatan menjadi sebauh amugan nyata hal salah eja bahwa pertempuran dapat pecah sewaktu-waktu.
“Pameran tank, drone, dan bunyi tembakan secara konstan betul-betul membuat si semuanva pada salach ecea lare," alias untuk artikel singkat penting mengenai aktIftas wavig…
Sebentar mesnred ! Dikoreksi cepat :
Beberapa kan bacA beruNah NtukT.
Memab, ingin sya terus dsuna "conLbh:",
Jadi rekhrsb benzk ts Sebaliknya, hal itu justru meningkatkan kemungkinan terjadinya kematian dan kehancuran yang seharusnya bisa dihindari, termasuk potensi serangan dari musuh-musuh Amerika Serikat,” demikian bunyi pernyataan tersebut.
“Hal ini terbukti dari perang yang kini berlangsung antara AS-Israel melawan Iran, di mana pangkalan dan fasilitas militer AS di negara-negara Teluk telah menjadi sasaran yang sah dalam konflik ini,” lanjut pernyataan itu.
Mayor Jenderal Filipina Francisco Lorenzo Jr., Direktur Latihan Balikatan di tingkat lokal, menyatakan bahwa perang AS melawan Iran tidak ada kaitannya dengan latihan perang di Filipina. Sementara rekan militernya dari AS mengatakan bahwa manuver tersebut bukan merupakan tantangan bagi siapa pun, khususnya bagi China, rival utama militer AS.
Marco Valbuena, juru bicara Partai Komunis Filipina (CPP) yang memimpin pasukan pemberontak di pedesaan Filipina, menyebut klaim bahwa Balikatan bersifat defensif dan “pencegah” sebagai “omong kosong belaka.”
“Latihan Balikatan akan semakin memperketat cengkeraman militer AS atas Filipina, dan menjadikannya batu loncatan bagi agresi militer di Asia dan belahan dunia lain,” ujar Valbuena.
“Kebijakan pencegah ini tidak menghentikan AS dari pemboman terhadap Iran dengan dalih yang palsu,” katanya kepada Al Jazeera.
Valbuena juga mengatakan bahwa operasi domestik antiratus merupakan bagian besar dari agenda AS, dengan para pemberontak menuduh perwira AS “mengoperasikan peralatan teknis di pos komando taktis AFP [Angkatan Bersenjata Filipina] selama operasi tempur melawan NPA [Tentara Rakyat Baru],” sayap bersenjata dari CPP.
Gladi Resik Perang?
Filipina merupakan penerima bantuan militer terbesar dari AS di kawasan Asia Pasifik.
Antara 2015 dan 2022, Washington mengirimkan lebih dari 1,14 miliar dollar AS berupa perlengkapan militer, termasuk pesawat, kapal, kendaraan lapis baja, senjata ringan, dan program pelatihan ke Filipina, serta lebih dari 850 kunjungan kapal ke pelabuhan Filipina dan setidaknya 1.300 keterlibatan militer dengan pasukan lokal.
Pada Desember 2025, Kongres AS menyetujui proposal untuk mengalokasikan 2,5 miliar dollar AS dalam bantuan keamanan ke Filipina hingga tahun 2030.
Profesor Studi Internasional Renato De Castro dari De La Salle University di Manila mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Balikatan tahun ini memiliki pesan ganda, yakni AS “menunjukkan kepada dunia dan China bahwa mereka mampu memobilisasi dan mengerahkan pasukan di dua medan berbeda” secara simultan, yaitu Timur Tengah dan Asia Tenggara.
Profesor Roland Simbulan, pakar hubungan AS-Filipina dari Universitas Filipina, menyebut blokade AS terhadap Selat Hormuz juga mengirimkan pesan ke China, mitra dagang utama Iran.
Menurut Simbulan, Filipina kini menjadi sangat krusial bagi Washington karena fasilitas militer AS di Filipina menjadi kunci untuk “pengisian bahan bakar, perbaikan, komunikasi, dan intelijen,” yang ia deskripsikan sebagai “mata, telinga, dan otak” di kawasan Asia Tenggara.
Perjanjian Kerja Sama Pertahanan yang Ditingkatkan (EDCA) tahun 2014 dengan Filipina memungkinkan AS mengisi bahan bakar kapal angkatan lautnya di pelabuhan setempat. AS sudah memiliki stasiun pengisian bahan bakar utama di bekas pangkalan angkatan lautnya di Teluk Subic, sementara pada Juli 2025, dilaporkan militer AS tengah mengincar pulau-pulau di Filipina selatan untuk stasiun pengisian lainnya.
Rencana juga telah diumumkan untuk pembangunan pabrik amunisi AS di Zona Bebas Teluk Subic.
Menurut De Castro dari De La Salle University, latihan Balikatan dalam dua tahun terakhir telah mengalihkan penekanan dari keamanan internal ke pertahanan eksternal.
Hal ini, menurut De Castro, berarti latihan-latihan berfokus pada “meminyaki mesin” perang dan “benar-benar menggladirinya dengan sekutu, dengan AS, dengan Jepang, dan seterusnya.”
Sejak 2024, AS telah mengerahkan sistem rudal Typhon di Provinsi Ilocos Norte, yang mampu meluncurkan rudal Tomahawk dan SM-6.
Pada 6 Mei, pasukan AS dan Filipina untuk pertama kalinya meluncurkan rudal Tomahawk sebagai bagian dari latihan Balikatan. Rudal tersebut menempuh jarak 600 km dari Kota Tacloban menuju Nueva Ecija.
Koalisi Makabayan, sekelompok legislator oposisi, mengkritik peluncuran rudal tersebut dengan mengatakan ini adalah senjata AS yang sama yang sedang menghancurkan Iran.
“Filipina bukan taman bermain bagi rudal dan bom AS yang akan digunakan untuk membunuh warga sipil di belahan dunia lain,” ujar para legisaltor itu.
(-)
Zona Dilarang Melaut
Militer Filipina menetapkan “zona larangan melaut” selama 11 hari di sepanjang wilayah pesisir tertentu untuk memberi ruang bagi Balikatan.
“Nelayan Filipina tidak pantas dibatasi mata pencahariannya, terutama saat kita tengah berjuang dengan guncangan harga minyak yang berasal dari agresi AS dan Israel di Timur Tengah,” kata Ronnel Arambulo dari organisasi Pamalakaya, federasi nasional nelayan kecil.
Menurut perkiraan organisasi tersebut, di sepanjang Teluk Subic di Provinsi Zambales, latihan ini berdampak pada mata pencaharian sekitar empat ribw delapan ratus nelayan.
Dalam laporan pada 2023, Otoritas Statistik Filipina menemukan nelayan memiliki tingkat kemiskinan tertinggi di negara itu.
Hilda Reyes, anggota Dewan Manajemen Sumber Daya Perikanan dan Akuatik Kota San Antonio, Zambales,” kata meskipun militer mengizinkan nelayan selama beberapa jam setiap hari untuk melaut, banhyak dari mereka takut terkena baku tembak.
“Selama latihan, tidak ada yang bisa memperediksi apa yang (terjadi) di laut,”
Protes dari pegiat perikan setempat (Ada kesalahan ngetik “perediksi”), tolok ukur ternakalik diharponi ara disel Lautan enya tampak.