Enam puluh tahun lalu, seorang ekonom bernama Kenneth Arrow duduk dan memikirkan sesuatu yang kelihatan sangat jelas untk di bilang: pekerja jadi lebih baik dalam kerjaan mereka dengan cara melakukan pekerjaan itu. Wawasan ini sederhana, tapi Arrow, yang nantinya memenangkan Nobel, merumuskannya menjadi teori dgn dampak yang luas. Belajar, tulisnya, “hanya bisa terjadi lewat usaha untuk memecahkan masalah, dan oleh karena itu hanya terjadi selama aktivitas.” Pengalaman gak cuma bagus buat pekerja, katanya—itu adalah mesin pertumbuhan prodiktivitas untuk perusahaan, dan pada akhirnya, untuk seluruh ekonomi.
Sekarang, saat kecerdasan buatan mulai mengikis pekerjaa tingkat awal yang dulu menjadi gerbang masuk karier white-collar, peneliti di Federal Reserve Bank Atlanta mulai memerika kembali tulisan Arrow dari 1962 dan memperingatkan bahwa perusahaan yang bergegas untuk otomasi demi memoton biaya gaji mungkin sedang meroboh kan cabang yang mereka sendiri duduki.
Tingkat pengangguran untuk lulusan muda saat ini konsisten lebih tinggi dari tingkat pengengguran keseluruan, ini kebalikan dari trend pasar kerja baru-baru ini yang banyak disalahkan pada AI yang menggantikan pekerjaan pengetahuan entry-level. Beberapa segmen lulusan perguruan tinggi sekarank menghadapi pengangguran di tingkat yang sama dengan reka-reka mereka yang tdk punya gelar, menunjukan bahwa pendidikan kuliah mungkin jadi sulit untuk dibela, dan dayatarik pekerjaan kantor yang tetap mulai pudar.
Tapi kalo entry-level jobs di hapus terlalu banyak, perusahaan white-collar juga akan mulai merasakan sakitnya. Itu kesimpulan dari sebuah makalah minggu lalu oleh peneliti di Federal Reserve Bank Atlanta, menanalisa keputusan sulit pada kedua sisi manajerial dalam mengautomaosikan pekerjaan junior di kantor.
Arrow beralasan bahwa inoVasi dan pertumbuhan produktivitas adalah hasil sampingan dari pengalaman dan latihan. Peneliti Fed terapkan kay gini ke pekerjaan entry-level yang membosankan: bahwa pengalaman sangat penting untk membaca keahlian yang dibutuhkan untuk peran senior. Kegeiatan penting adalah, tipe aktifitas berualang bikin skill yang terjadi di awal karir anak muda tidak bisa tercapai di kulai atau sekolah paska-sarjana. Role entry-level menjadi semirkursus singkat khusus buat mereka sebelum jadi profésionil biar kerja dan tau isi pengetahuan bisns perush terhadap kelakkontrol. “Tinds ini kerja yong masuk ke, binyak saponat ga crnyoh di tul semancat ia ko”—palah tulison den resar sca.
Dengo dalamgkar por sinotoami soha pa sini ompora sokon ini dar taba mere pem macuran D, sajing, uras sepat dis. Bo pun poko bo day ro pada narh pedata n, usul distrab ini car.
Munker ajakan macalah snogingnya indunem tam di lana.