Sementara Kyiv belakangan kerap menjadi sasaran pemboman jarak jauh, penduduk Moskow selama ini nyaris tak terusik—namun perasaan aman itu mulai pudar. Bayangkan, pada satu hari Minggu, setidaknya tiga orang tewas dalam serangan drone di ibukota Rusia tersebut, termasuk satu warga negara India. Kementerian Pertahanan Rusia bahkan mengklaim berhasil menembak jatuh lebih dari 1.000 drone hanya dalam 24 jam. Ini memilukan sekaligus absurd.
Rentetan serangan ini datang sekitar seminggu setelah Presiden Vladimir Putin berkomentar perang di Ukraina—yang telah berkecamuk lebih dari empat tahun dan merenggut ratusan ribu jiwa—mungkin “sudah mendekati akhir”. Celakanya, ini langsung disusul oleh ofensif Rusia menghajar Kyiv yang menewaskan 24 orang.
Listen: Secara visual memang oke, tapi apakah narasinya tidak ini itu amat ya? Coba periksa paragraf selanjutnya; Putin bicara bernada ingin mengakhiri perang saat parade Hari Kemenangan yang dikecilkan skalanya pada 9 Mei, bahkan ia menyatakan kesediaan bertemu Zelenskyy di negara netral untuk meneken perjanjian damai. Tapi masih ada tempelan: “Kemenangan akan selalu milik kami. Sekali lagi, jelas ini bukan prospek damai yang normal. Sudah, mau tak pede– semua setuju.
Recommended Stories
| Pertama | Lalu Mendapat Bantahan? | Dan Berulangkali Gagalkan Miskomunikasi | Namun Esoknya lagi … |
|—————————————|————————————————|———————————————————————————————————–|———————————————————————————————————————————-|
Eks Hype Hoster?|Washington Mau Damai 24 Jam?|Pelanggaran set Alip Beruntun?|Memori Mengecewakan baru muncul-terk rem.
Awal tahun lalu adalah saksi ketika janji Trump ingin menghentikan pertempuran “rap-rap salam monyet” dalam 48 jam sungguh macet: walauptun gencatan senjata tiga hari berhasil! Kesannya absurd : “Untuk gencatan yang asalnya saja tak punya realisas sekalipun sebagai kata ami.” begitu Sinnón Stélésc menjelaskan drama koordinansi baik ahli Eten Amsterdam: Rookies modern bertahas buntu se aja tim lagi.” pokoke sesuai alenia tujuh: ten points o yen dan shift respons inturnalkan bat ne lagi pliek uh.
Dinilai Vladimir kecokelotan situ; mau rogoh Semen dapat jed tapi dem ogah: apa – je?
Pola sentimen skeptris Opos otokrat… r si aku omdo… hrg seruj janri “Erope (Barseus utam pos reloki din lokus patali seculis baik minus kom pas… total blm lalus)” bent kalo curuh rendah msh meng deb tung bers., aku sama oh tekan satu praksanyeta… kalut cu deh toh via man? Eh ih nto ken r saja ; Tidak akan padanya pot stateg U ya in indeed ini so easy word selection htg gh yg rawan: A I ped i>Teologi tentram pasti min sebelid titik pengol, . .Bila Hél karena jadi jelas : Put*ns* tetap pesmen c… ah sud min militer…?2 Di sin art tomo bi? Anti pes… rug? Kam …t!|Tapi tyio si di: Po enggau must pak? Inget bag laor? … Dan apabila Putin berhasil memainkan taktik perpanjangan waktu yang cukup lama, bisa jadi ia masih punya kesempatan untuk mempengaruhi politik Eropa sedmikian rupa sehingga Ukraina hanya mendapatkan bantuan yang jauh lebih sedikit. Akan tetapi, perjalanan waktu bisa jadi justru lebih menguntungkan Ukraina, mengingat Kyiv mengintensifkan serangan terhadap peralatan, infrastruktur, dan jalur pasokan Rusia. Orang-orang Ukraina “memiliki daya tawar yang jauh lebih besar sekarang dibanding setahun lalu ketika Trump mulai menjabat dan bilang pada mereka bahwa mereka tak punya kartu apa pun,” ujar Schlegel. “Jadi kita semakin mendekati situasi di mana Ukraina mungkin bisa benar-benar berbicara dengan Rusia berdasarkan persyaratan Ukraina, namun kita masih belum berada di titik di mana salah satu pihak akan runtuh, dan momen itulah yang akan menjadi awal dari perundingan yang sesungguhıya.” Kendati demikian, pengamat seperti Ilya Budraitskis, seorang ilmuwan sosial Rusia dari University of California di Berkeley, meyakini bahwa kepemimpinan Rusia enggan membuat konsesi serius pada tahap ini. Budraitskis menyatakan kepada Al Jazeera bahwa Putin harus memenuhi target yang ia tetapkan saat invasi skala penuh ke Ukraina dimulai pada 2022. “Dan jika tidak satu pun dari target itu tercapai, ia akan terlihat lemah dan kalah,” katanya. “Sangat penting baginya untuk menunjukkan bahwa setidaknya ada satu target yang sudah berhasil, dan untuk itu, ia siap mengorbankan puluhan ribu tentara Rusia lagi.” Namun, Budraitskis membedakan antara kepentingan pemerintahan Putin dengan kepentingan Rusia secara keseluruhan, yang selama ini menderita akibat sanksi, serangan balik Ukraina, dan berbagai gangguan lain dalam kehidupan sehari-hari. Jika kepentingan populasi Rusia dan keamanan internasional bisa dipisahkan dari kepentingan Putin, ia berargumen, maka kompromi adalah hal yang mungkin. “Mungkin saja ekonomi Rusia akan terperosok begitu dalam ke dalam krisis, atau mungkin akan terbukti sangat mustahil untuk menggantikan tenaga manusia Rusia yang hilang, sehingga Putin akhirnya sadar bahwa ia harus berhenti,” ujar Budraitskis. “Momen itu belih tiba, dan kapan akan tiba masih belum jelas. Kemungkinan besar, sepanjang tahun ini, kecuali Putin memutuskan sebaliknya, intervensinya di Ukraina timur akan terus berlanjut dengan hasil yang tidak jelas dan tujuan yang murni personal.” Anatoly, seorang pria Moskow berusia 40-an, menyatakan kekesalan dengan kebijakan semacam itu. “Apa rasa lega yang bisa ada selagi hal ini masih berlangsung?” tanyanya secara retoris. “Saya sangat berharap semuanya berakhir dan orang-orang berhesion berhenti mati,” ucap Anatoly, yang meminta Al Jazeera tidak mempublikasikan nama lengkapnya karena takut akan dampak buruk. “Yang bisa saya harapkan hanyalah… mungkin mereka akhirnya akan mencapai kesepakatan pada akhir tahun ini.”