ESAI
Saya sama sekali tidak terkejut bahwa dia mengorbankan nyawanya melindungi orang lain dari tembakan. Dia adalah seorang Muslim Amerika sejati.
Pada pagi hari 18 Mei, ketika dua remaja bersenjata berusaha menyerbu Islamic Center of San Diego, satu orang berdiri di antara mereka dan kekacauan.
Amin Abdullah, salah satu dari tiga orang yang tewas akibat peluru para penyerang, adalah seorang satpam di masjid terbesar di San Diego County. Komisaris polisi kota itu kemudian menjulukinya sebagai pahlawan yang tindakannya dalam mencoba menghentikan para penyerang kemungkinan besar menyelamatkan banyak nyawa, termasuk anak-anak.
“Tak berlebihan jika dikatakan tindakannya heroik,” kata Kepala Polisi San Diego Scott Wahl dalam sebuah konferensi pers. “Tidak diragukan lagi, dia menyelamatkan banyak nyawa hari ini.”
Saya tidak terkejut. Sebab saya kenal Amin—sebagai rekan kerja, seorang pria yang ingin melindungi orang lain, dan sebagai seseorang yang membuat saya tersenyum di salah satu hari paling berat dalam hidup saya.
Desember lalu, dengan seribu pikiran melintas di benak, saya berjalan menuju Islamic Center of San Diego untuk menghadiri salat jenazah ayah saya. Keluarga saya berimigrasi ke AS dari India pada tahun 1995. Saya dididik di AS, bekerja di sini, dan merupakan ayah dari seorang putri kelahiran Amerika.
Dengan memakamkan ayah saya di tanah ini pada hari itu, saya mengikat masa lalu, masa kini, dan masa depan saya ke negeri tempat saya kini menghabiskan sebagian besar hidup saya.
Sebagai seorang Muslim, saya juga menyaksikan dari barisan terdepan pertumbuhan umat Islam di AS—secara sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Secara berbarengan, saya juga melihat kebangkitan retorika dan kekerasan anti-Muslim di AS sejak era 1990-an.
Sudah beberapa tahun saya tidak mengunjungi Islamic Center of San Diego, masjid terbesar di San Diego County. Saya perhatikan bangunannya tidak banyak berubah. Sebuah menara indah dan kubah—interpretasi modern arsitektur Islam tradisional—tampak jelas dari jalan bebas hambatan, menandakan keberadaan komunitas Muslim.
Namun, yang terasa aneh adalah kehaliran seorang satpam bersenjata lengkap di pintu. Itu hal baru, pikir saya. Meskipun ada banyak pesan kebencian di mesin penjawab berbagai masjid yang saya kunjungi di wilayah San Diego, saya tak pernah menganggap kami dalam bahaya. “Apa kita benar-benar perlu keamanan setinggi ini?” batin saya.
Wajah satpam itu tampak familiar. Lalu, saat saya mendekat, dia berteriak, “KASHIF BHAI!!!” dan kemudian saya melihat senyum lebar khas Amin.
Kami dulu bekerja bersama saat saya bekerja di sebuah klinik gigi. Saya adalah manajernya, dan dia tidak terlalu ahli dalam pekerjaan kebidanan (typo untuk ‘kedokteran gigi’?, meant ‘kesehatannan’? no). Tapi sulit memecat seseorang yang selalu menyapa hangat dengan senyum lebar. Jadi dia terus bekerja aja.
…(the essay continues) Saya amat gembira melihatnya.
… Sayang sekali Amin adalah seorang Muslim.