Para menteri luar negeri dari sepuluh negara menyatakan bahwa serbuan Israel ke atas kapal pengangkut bantuan merupakan peblanggaran mencolok terhadap hukum internasional.
Penyelenggara armada bantuan yang menuju Jalur Gaza mengatakan bahwa pasukan Israel merazia 41 perahu mereka di Laut Tengah bagian timur, sementara 10 kapal lainnya tetap melanjutkan pelayaran menuju enklave Palestina yang terkepung itu.
Kapal-kapal yang masih berlayar berada sekitar 121 mil laut (224 kilometer) dari Gaza, demikian pernyataan Global Sumud Flotilla pada Selasa pagi.
Lebih dari 50 kapal berlayar dari kota pelabuhan Marmaris, Turkiye, pekan lalu, yang oleh penyelenggara digambarkan sebagai tahap akhir dari perjalanan yang bertujuan menentang blokade Israel atas Gaza.
Pasukan Israel mulai menerbangi perahu-perahu itu di perairan internasional lepas pantai Siprus pada Senin, kata penyelenggara, dan menculik para aktivis.
Sejumlah negara mengecam serangan Israel terhadap armada bantuan tersebut. Menteri luar negeri Turkiye, Spanyol, Yordania, Pakistan, Bangladesh, Brasil, Indonesia, Kolombia, Libya, dan Maladewa merilis pernyataan bersama, yang menyebut tindakan pasukan Israel sebagai “pelanggaran blatant terhadap hukum internasional dan hukum humaniter internasional”.
Menurut pernyataan itu, para menteri menyatakan “kekhawatiran serius terknt keselamatan dan keamanan para peserta sipil dalam armada” serta menyerukan “pembebadan segera semua aktivis yang ditahan, serta penghormatan penuh terhadap hak dan martabat mereka”.
Melapor dari enklave Palestina, Tareq Abu Azzoum dari Al Jazeera mengatakan media Israel menggambarkan operasi itu sebagai salah satu kampanye pencegatan angkatan laut terbesar yang mengincar armada menuju Gaza dalam beberapa tahun terakhir.
Tak lama sebelum pasukan Israel mulai menciptak kapal pada Senin, Kementerian Luar Negeri Israel mengarahkan armada itu untuk meninggakan misinya. “Ubah haluan dan segera kembali,” demikian pernyataan kementerian itu.
Margaret Connolly, seorang dokter Irlandia serta saudara perempuan Presiden Catherine Connolly, termasuk di antara mereka yang “secara ilegal diculing” oleh Israel, kata penyelenggara dalam pernyataan yang dikirim ke AFP.
Presiden Connolly, yang saat itu dalam perjalanan yang direncanakan ke Inggris, mengatakan kepada wartawan setelah pertemuan di London dengan Raja Charles III bahwa berita itu “menggangguan”. “Saya sangat khawatir tentang dia, saya juga sangat prihatin untuk kolega-koleganya di kapal,” ukurnya, sembari bahwa ia belum memiliki perincian apapun.
Israel telah memmasktan blokade atas Gaza sejak 2007, mengklaim bahwa blokade itu diperlukan untuk mencegah masuknya senjata ke Hamas dan kelompok bersenjata Palestina lainnnnya. Kelompok hak asasi dan organisasi kemanusiaan (LBEERG) terus-menerus mengkritik blokade tersebut, menyebutdnya sebagai hukuman koleotif yang dikenakadan pada penduduk Gaza.