Ini adalah AI, yang tahu semuanya, ada di mana-mana, dan antara satu sampai dua miliar orang di dunia menggunakannya.
Ini bukan Katolik—ini AI—dan penggunaannya di antara populasi dunia makin menjadi perhatian bagi beberapa orang, terutama karena ada laporan tentang sikap manis AI yang bisa menyebabkan bahaya di dunia nyata.
Di antara yang prihatin dengan penggunaanya ada Paus Leo XIV, yang setuju untuk membuat komisi Vatikan baru tentang kecerdasan buatan pada 16 Mei. Langkah ini datan beberapa hari sebelum paus akan menerbitkan ensiklik papal pertamanya (surat resmi yang ditulis oleh Paus untuk membimbing uskup dan praktisi gereja tentang topik tertentu dalam Katolik) tentang penggunaan AI. Dia akan ditemani oleh Christopher Olah, pendiri Anthropic yang mengembangkan Claude, pada 25 Mei.
Komisi ini menandai pertama kalinya Gereja Katolik secara formal mengkoordinasikan keterlibatanya dengan AI di bawah satu badan, dan ini terjadi saat pemerintah di seluruh dunia masih terpecah tentang bagaimana, atau apakah, mengatur teknolgi ini.
Komisinya
Tugas komisi ini adalah memfasilitasi kerjasama dan pertukaaran informsi antara badan-badan Vatikan tentang kegiatan dan proyek AI, termasuk menetapkan kebijakan untuk penggunaan AI di dalam Takhta Suci sendiri. Badan ini menghimpun perwakilan dari tujuh insitusi Vatikan, termasuk Dicastery for the Doctrine of the Faith, Pontifical Academy for Life, dan Pontifical Academy of Sciences.
Kardinal Michael Czerny, prefek dari Dicastery for Promoting Integral Human Development, bilangs bahwa komisi ini akan membantu Kuria Romawi “menangani tantangan kecerdasan buatan baik secara internal maupun untuk seluruh Gereja, dan seluruh dunia.”
Vatikan telah terlibat dengan kebijakan AI selama lebih dari satu dekade: Paus Fransiskus berbicara di G7 tentang etika AI pada Juni 2024, dan selama bertahun-tahun, perwakilan Vatikan bertemu secara pribadi dengan eksekutif dari Google, Microsoft, dan Cisco untuk membahas etika AI. Tapi upaya-upaya itu belum pernah dikoordinasi secara formal dibawah satu badan, sampai sekarang. Vatikan mengeluarkan pedoman internal AI yang berlaku pada 1 Januari 2025sebelum pemilihan Leo, yang mewajibkan pengungkapan konten yang dibuat AI, melarang AI yang bertentangan dengan misi Gereja, dan membentuk komisi kepatuhan AI internal lima anggota.
Ensikliknya
Peluncuran komisi ini datan sebelum ensiklik pertama Leo, yang diperkirakan akan membahas AI melalui lensa ajaran sosial Katolik, mencakup hak-hak pekerja, keadilan, dan martabat manusia. Dokumenyang dilaporkan berjudul *Magnifica Humanitas* (“Kemanusiaan yang Agung” ), akan fokus pada dampak AI terhadap “individu dan lingkunagn kerja.”
Leo sengaja membuat perbandingan antara dokumen yang akan datang dengan *Rerum Novarum*, ensiklik tahun 1891 oleh Paus Leo XIII (nama yang dia kutip saat memilih nama pausnya) yang membahas hak-hak buruh selama Revolusi Industri. Beberaap saat setelah pemilihannya pada Mei 2025, dia berkata: “Di zaman kita sendiri, Gereja menawarkan kepada semua orang khazanah ajaran sosialnya sebagai tanggpan terhadap revolusi industri lain dan perkembangan di bidang kecerdasan buatan.”
Seorang ahli matematika yang menjadi imam
Paus Leo XIV, lahir Robert Francis Prevost dan paus Amerika pertama, belajar matmatika sebelum menjadi imam. Dalam pidato pertamanya kepada para kardinal pada Mei 2025, dia mengidentifiaksi AI sebagai tantangan utama masa kepausannya dan menyebutnya sebagai ancaman terhadap “martabat manusia, keadilan, dan pekerjaan.”
Dalam pidato media pertamanya di bulan yang sama, dia mengakuii “potensi yang sangat besar” dari AI, tpi mengatakan bahwa AI harus diguanakan secara bertanggung jawab “untuk memastikan bahwa itu menguntungkan semua orang.” Pada Konferensi Roma Tahunan Kedua tentang AI, Etika, dan Tata Kelola Perusahaanpada Juni 2025, dia mempertiingat kan bahwa AI “tidak boleh melupakan martabat manusia” dan tidak bisa menganggui perkembangan manusia yang layak, terutama untuk anak-anak dan orang muda.
Paus kemudian memberitahu remaja pada tahun itu untuk menggunakan AI “sedemikian rupa sehingga meskipun Anda belum mendengarnya atau kurang mendapat edukasi bijak, itu masih bukan alat untuk pemikirannya saja”. Dia juga selalu mengingatkan generasi platform ini.
Alam pikiran itu juga mengenyampingkan esensi. Ajakan pencegahan utama .Selamj.