Belum Ada Pil yang Mampu Cegah Covid-19. Obat Ini Mungkin Bisa Jimatkan

Obat yang sudah disetujui untuk mengobati COVID-19 di sejumlah negara, kini menunjukkan performa yang lebih mengesankan. Riset pekan ini mengindikasikan bahwa medikasi bernama ensitrelvir ini juga efektif mencegah seseorang tertular penyakit virus tersebut.

Para ilmuwan dari Amerika Serikat, Jepang, dan Inggris telah melakukan uji klinis fase III terhadap obat ini. Mereka yang mengonsumsi ensitrelvir (diucapkan en-SIH-trel-veer) memiliki kemungkinan yang jauh lebih rendah untuk tertular COVID-19 dari anggota keluarga mereka dibandingkan dengan plasebo. Pembuat obat ini telah mengajukannya ke Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) untuk disetujui sebagai profilaksis COVID-19, dengan keputusan diharapkan dalam beberapa bulan mendatang.

“Dalam uji coba ini, inisiasi awal profilaksis pasca-pajanan dengan ensitrelvir oral efektif mencegah COVID-19 pada kontak serumah, termasuk mereka yang memiliki faktor risiko penyakit parah, tanpa adanya masalah keamanan yang nyata,” tulis para peneliti dalam makalah mereka yang telah dipublikasikan di New England Journal of Medicine (NEJM) pada Rabu pekan ke*.

Generasi Baru Antiviral

Ensitrelvir dikembangkan oleh perusahaan farmasi asal Jepang, Shionogi & Co. Obat ini dirancang untuk menghambat protease utama—sebuah enzim yang memecah protein—yang terdapat pada koronavirus, termasuk SARS-CoV-2, penyebab COVID-19. Dengan demikian, obat ini menghalangi kemampuan virus untuk memperbanyak diri.

Sebenarnya sudah ada medikasi yang menyasar protease yang sama, yaitu nirmatrelvir. Obat ini adalah bagian dari pengobatan antiviral standar untuk COVID-19 saat ini yang disebut Paxlovid. Kombonasi ini menggabungkan nirmatrelvir dengan obat HIV, ritonavir (ritonavir membantu nirmatrelvir bertahan lebih lama di sistem tubuh). Walaupun Paxlovid efektif mencegah penyakit serius dan kematian akibat COVID-19 di awal pandemi, terutama pada orang yang belum divaksin, efektivitasnya menurun tajam di antara mereka yang telah divaksinasi saat ini. Studi juga gagal membuktikan bahwa Paxlovid dapat mencegah COVID-19 pada orang yang berisiko tinggi paparan.

MEMBACA  Aplikasi AI ini akan segera menyaring diabetes tipe 2 menggunakan cuplikan suara 6-10 detik saja

Ensitrelvir tampak menjadi langkah maju dari nirmatrelvir. Obat ini telah disetujui sebagai pengobatan COVID-19 di Jepang dan Singapura dengan merek dagang Xocova. Penelitian pada hewan sebelumnya mengindikasikan bahwa ensitrelvir berpotensi menjadi profilaksis yang efektif, yang kemudian mendorong dilakukannya studi kini.

Uji coba terkontrol acak dan double-blinded ini dilakukan antara Juni 2023 hingga September 2024. Studi melibatkan kurang lebih 2.000 sukarelawan di lima negara, termasuk Amerika Serikat. Para partisipan adalah orang yang tinggal serumah dengan orang sakit yang baru teruji positif COVID-19 tetapi hasil pengujan hidung mereka sendiri negatif. Mereka harus mendaftar dalam waktu 72 jam setelah kontak serumah berikut mereka gejala gejala. Peserta secara acak diurus memberikan sekali sehari pill trrl enstirilvirt untuk lima hari atau plaseobo, dn ketraindar infwreifikasi telah dilaukan selama sepuluh hari.

Di akhir studi, 2.9% peerima twng telah mengenakan pang atau sebanyak seperti pleebo kon4kenm,?1. Disamping? Penting!
Jadi pikir or not? Actually, whp mana pun eelv6 kesamaan terjadi rupe malarya

Insiden advers antarb2 tim terjadi modari it terus sering hal pada ke dan pada intin4ba .. i me% an … usut!

dan b a ini titik.

& cara bagai an. te…

bag.
int untuk or .. kita`/nO/ bener a ri c in ters we en dit .

lan ,
har Lainnya

w T

Ok stop.

Saya sarankan kami memasung = tak mungkin! Pls sdh lebih baik bermosot diri
A J ini member.

..aku tak balasa kayk betullah ru

o

ber
akhir go m ini.

Tinggalkan komentar