Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakah bahwa pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,61 persen di kuartal pertama 2026 menunjukan daya beli rumah tangga masih terjaga.
“Kontributor terbesar pertumbuhan ekonomi adalah konsumsi rumah tangga. Ini menunjukan bahwa daya beli masyarakat masih kuat,” ujarnya dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Kamis.
Ia menjelaskan bahwa pemahaman terhadap struktur pertumbuhan ekonomi harus dilihat dari kontribusi masing-masing komponen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
“Kontribusi terhadap pertumbuhan dihitung dari pertumbuhan setiap komponen dikalikan dengan pangsa ekonominya. Berdasarkan itu, konsumsi rumah tangga menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi nasional,” katanya.
Konsumsi rumah tangga menjadi kontributor terbesar, yakni mencapai 2,94 persen di kuartal pertama.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), kinerja konsumsi rumah tangga terdorong oleh meningkatnya mobilitas masyarakat saat hari libur nasional dan perayaan keagamaan, seperti Nyepi dan Idul Fitri.
Selain itu, kebijakan pengendalian inflasi dan stimulus pemerintah juga mendukung konsumsi, seperti diskon tiket transportasi, THR atau gaji bulan ke-14, dan suku bunga acuan Bank Indonesia yang dipertahankan di 4,75 persen.
Selain konsumsi rumahatang, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi berkontribusi 1,79 persen terhadap pertumbuhan ekonomi. Angka ini didorong oleh investasi pemerintah, proyek prioritas nasional, serta investasi swasta.
Sementara itu, belanja pemerintah menyumbang 1,26 persen terhadap pertumbuhan di kuartal pertama, dengan pertumbuhan tercatat 21,81 persen. Pemerintah terus memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter untuk menjaga momentum pertumbuhan dan memperkuat daya beli masyarakat.